Minggu, Desember 04, 2011

Survey Pasar

Tidak mudah memang untuk lepas dari lingkungan lama dan masuk ke lingkungan baru terutama jika kita sudah berusia lanjut. Hal ini saya temui dalam usaha untuk mengajak ibu saya yang sudah lanjut usia (76 tahun) pindah dari rumah kami yang sudah kami tempati selama 40 tahun. Salah satu yang sering menjadi kekhawatiran beliau adalah berpisah dengan pasar Kampung Baru. Kehidupan sehari-harinya selama 40 tahun tinggal di Kampung Baru telah membuat ibu saya mengenal hampir semua pedagang di pasar itu.
Begitu juga sebaliknya. Yang unik lagi hampir semua pedagang di pasar itu memanggil ibu kami dengan "mami". Pedagang yang paling sering dibanggakannya adalah si Bahar tukang (sebutan khas beliau untuk menyebut penjual) daging langganannya di pasar itu. Kl saya menemaninya membeli daging, selalu dipujinya daging si Bahar ini "Bahar, ini anak saya jadi dokter karena makan daging Bahar ! "
Si Bahar selalu tersenyum bangga. Selain Bahar ada juga si Mala tukang sayur, si anu tukang ikan, tukang ayam sampai tukang sepeda tempat ibu saya membetulkan sepeda kalau sepedanya rusak. Yup, ibu saya dulu selalu belanja dengan bersepeda.
Setelah beberapa bulan menginap di rumah kami yang baru pun, ibu saya masih belum bisa melepaskan diri dari pasar Kampung Baru. Beli daging masih harus ke si Bahar, begitu juga bahan lainnya. Berkali-kali saya ajak belanja di pasar dekat rumah baru beliau tolak.
Minggu ini sedikit beda.
Sejak malamnya sudah saya dengungkan bahwa besok saya akan ajak beliau belanja di pasar inpres dekat rumah. Saya janjikan kalau beliau tidak akan kecewa. "Pasarnya lengkap mami, bersih lagi. Tukang babi pun ada" mencoba untuk meyakinkan beliau. Tukang yang satu ini perlu disebutkan agar dia semakin nyaman.
Akhirnya pagi tadi jadilah kami belanja di Pasar Inpres Titi Kuning, meski ibu saya sempat ragu : takut jadi perhatian karena orang baru di sana.
Belum lagi Jalan masuk menuju parkiran mobil yang memang pas-pasan untuk dilewati mobil sempat membuat ibu saya tidak nyaman. Tapi saya menenangkannya.
Los pertama yang kami kunjungi adalah los penjual ikan. Ternyata salah satu penjual ikan dikenalinya pernah jualan di Pasar Kampung Baru. Tapi tetap mami belum berniat membeli.
Lalu kami lanjut ke los penjual sayur. Saya lihat mami sudah mulai nyaman, mulai mengatakan mau beli ini dan itu.
Kami kemudian sampai ke penjual ayam. Rupanya si perempuan tionghoa tukang ayam ini dulu jualan di Kampung Baru. Mami terlihat senang sekali dan si tukang ayam ini pun rupanya mengenali beliau. Akhirnya ayam pun kami beli meski tidak ada rencana untuk itu. Tapi tidak apa-apa yng penting ibu saya senang. Kelihatan sekali kalau ibu saya langsung tidak merasa asing di pasar ini karena ada pedagang yang beliau kenal dan mengenal beliau.
Akhirnya belanjaan kami cukup banyak untuk lauk hari ini.
Sepanjang perjalanan pulang kami terus membicarakan si tukang ayam ini yang dulu jualan di Kampung Baru.
"Koq bisa kebetulan ya ketemu dia. Mestinya tadi kamu foto mami sama dia" katanya.
Ah iya juga ya, supaya dia makin mantap untuk seterusnya belanja di Pasar Inpres Titi Kuning ini.
Semoga pelan-pelan ibu kami bisa nyaman di tempat kami yang baru ini.
Amin...amin...:-)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

0 komentar: