Sudah hampir satu tahun terakhir, dalam perjalanan saya setiap pagi mengantar anak ke sekolah, saya membeli koran secara lepas lewat penjaja koran di perempatan Waspada ; perempatan Jl. Brigjend. Katamso dengan Jl. Pandu.
Penjajanya seorang ibu tidak terlalu tua (mungkin seumuran saya) yang kadang dibantu oleh 2 orang anak laki-laki, dugaan saya anaknya. Dia lah yang selalu berjalan diantara kendaraan yang berhenti di lampu merah menjajakan koran.
Sementara dia yang berkeliling, suaminya duduk di emperan di salah satu sisi jalan Brigjend Katamso menjaga stok koran yang akan dijual. Kalau kebetulan koran yang diinginkan pembeli tidak ada ditangannya, maka dia akan berlari menyebrang dan mengambilnya di tempat suaminya berada.
Karena hampir setiap hari saya membeli koran lewat ibu ini, dia pun akhirnya menjadi terbiasa dengan saya.
Kadang karena tidak ada uang pas untuk membayar koran, saya menolak untuk membeli. Tapi dia selalu bilang "tidak apa-apa, uangnya besok saja Bu.."
Begitu juga sebaliknya kalau kebetulan saya membeli koran lalu dia tidak mempunyai uang kembalian, saya juga bilang "tidak apa-apa, hitung saja untuk koran hari berikutnya"
Tak jarang juga jika dilihatnya saya membuka jendela mobil karena ingin membayar, koran yang biasa saya beli diletakkannya di dashboard mobil. Padahal uang yang saya berikan adalah uang untuk koran kemarin.
Suatu bentuk kepercayaan dari orang kecil yang membuat hati ini miris.
Semakin miris hati saya ketika saya menyodorkan uang ingin membayar tapi harus berkejaran dengan lampu yang menjelang merah. Belum lagi desah nafas anak saya yang ingin cepat tiba disekolah tapi juga khawatir jika maminya ini ambil koran tapi tidak dibayar.
Pagi tadi seperti biasa kami lewat di perempatan tersebut. Kami berhenti karena lampu meyala merah dan saya memanggil ibu penjaja koran tersebut. Sudah lama rasanya saya tidak membeli koran. Beberapa hari sebelumnya saya lihat bukan dia yang menjaja di perempatan tersebut.
Setelah koran ada di tangan saya, dia sempatkan cerita sambil menyiapkan uang kembalian.
"Ibu tau suami saya yang biasa duduk di seberang sana ? " tanyanya
"Dia sudah meninggal tanggal 3 Oktober yang lalu" sambungnya lagi dengan wajah yang datar.
Saya yang kaget.
"Meninggal di rumah sakit, sakit jantung dan gula" jawabnya ketika saya tanya meninggal karena apa dan di mana.
Pantas beberapa hari lalu saya tidak melihat mereka di perempatan Waspada itu.
Sesaat lampu menyala hijau, saya harus segera bergerak maju.
"Kuat lah ibu ya.." sahut saya sambil bergerak maju.
Dia tersenyum sambil mengangguk.
Saya merasa prihatin, karena pasti tidak mudah bagi nya.
Lalu saya teringat pada ucapan seorang kenalan tentang para penjaja koran terutama penjaja koran yang ibu-ibu.
"Aku tidak perlu koran, tapi aku mau beli koran kalau penjajanya ibu-ibu, kalau yang lain belum tentu, Karena pasti ibu-ibu berjuang untuk anaknya"
Yah, sepertinya saya juga harus begitu.
Mudah-mudahan perbuatan kecil saya (membeli koran darinya) bisa membantu dia.
Kamis, Oktober 13, 2011
Langgan:
Poskan Komentar (Atom)

0 komentar:
Poskan Komentar