Selama 45 tahun sejak dilahirkan saya tinggal di perumahan instansi bersama orang tua. Rumah kami besar, rumah peninggalan Belanda dengan kamar yang luas dan langit-langit yang tinggi, serta halaman depan dan belakang yang sangat luas.
Tapi sejak 3 minggu ini saya mulai menempati rumah yang bisa saya sebut rumah sendiri. Rumah type 70 di atas lahan kecil yang berukuran 6 x 16 yang saya beli 2 tahun yang lalu dengan cara mencicil.
Akhirnya saya pindah dari rumah berkamar 4 yang masing-masing kamar memiliki luas rata-rata 16m2, ke rumah mungil berkamar 3. Dari rumah yang memiliki halaman luas ke rumah yang luas halaman keseluruhan (depan dan belakang) hanya sekitar 20 m2.
Tapi dari awal saya tidak pernah khawatir saya akan menemui kesulitan untuk beradaptasi dalam rumah mungil.
Justru yang menjadi "concern" adalah bagaimana beradaptasi terhadap lingkungan tetangga yang tinggal berbagi dinding dengan rumah saya.
Inginnya sih membeli rumah sudut, supaya aku hanya "berurusan" dengan 1 tetangga, tapi apa mau dikate rumah sudut lebih mahal.
Akhirnya saya harus terima untuk "berurusan" dengan 2 tetangga di kiri dan kanan.
Dan saya berusaha menjadi penghuni yang baik dan menghargai keberadaan 2 tetangga yang berbagi dinding dengan saya, misalnya dengan tidak memasang music atau memutar volume TV keras-keras.
Nah, tetangga di kanan adalah keluarga dengan 4 orang anak, 2 laki-laki dan 2 perempuan yang sudah beranjak remaja. Pertama-tama aku menghabiskan weekend di sana, anak perempuan sulungnya sering melirik ke arah rumah ku. Anaknya pemalu tapi kelihatan kalau dia curious sekali. Pernah sekali aku tegur dan aku tanya sekolahnya di mana.
Setelah saya tinggal di sana, baru saya perhatikan kalau mereka itu tetangga yang "baik". Tidak pernah ada kedengaran suara berisik dari rumah di kanan itu, meski ada 4 anak remaja.Dengan jumlah anggota 6 orang dalam rumah tersebut, mestinya lebih berisik dari kami yang hanya berdua.
Saya kadang sampai heran, koq begitu tenangnya rumah di kanan ini seperti rumah yang tidak ada penghuninya. Satu-satunya hal yang menandakan ada penghuni adalah, saat malam atau pagi hari ketika masih sepi, bisa saya dengar derit pintu kamarnya yang (sepertinya) kurang diberi minyak, hahaha...
Kebiasaan lain yang unik dari tetangga sebelah adalah kebiasaan si bapak mencucui dan membersihkan mobilnya dua kali sehari, pagi dan malam hari. makanya tak heran mobil innova hitam mereka selalu tampil kinclong, beda dengan mobil saya yang dekil.
Tetangga yang di kiri lain lagi. Tetangga di kiri ini seorang anak muda, masih single.
Hari Minggu pertama saya tinggal di sana, pagi-pagi sudah terdengar musik dari rumah tersebut. Musiknya memang lagu-lagu Rohani, tapi diputar lumayan keras.
Pernah juga saya dengar dia berkaraoke sendiri dengan suara yang tidak terlalu bagus lah.
Sempat juga saya khawatir, bagaimana kalau jika nanti si pemuda ini mengajak teman-temannya berkaraoke, wah..bisa pecah telinga saya.
Suatu hari saya berkesempatan beramah tamah dengannya di depan rumah. Ternyata dia bekerja sebagai sales produk pembersih untuk kamar bedah dari suatu perusahaan farmasi yang cukup tekenal. Ternyata (lagi) rumah sakit tempat kerja saya merupakan salah satu rumah sakit sasaran di area kerjanya. Dia sempat tidak menyangka ketika saya katakan bahwa saya kenal atasannya dan saya kerja di rumah sakit.
"Wah...saya harus jadi tetangga yang baik nih" katanya setelah tahu informasi tentang saya.
Dalam hati saya pun bersyukur mengetahui tentang dia, merasa punya akses untuk bertindak jika dia "macam-macam". Uuughhhh...sorry saya tidak bermaksud sombong, tapi untuk jaga-jaga.
Tak lama setelah bincang-bincang itu, saya berkesempatan bertemu dengan atasannya di rumah sakit. Lalu saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk meminta no hp si sales ini.
Sengaja saya tidak minta langsung ke si sales ini, khawatir dia jadi ge-er (hehe..)
Hari Minggu lalu, mulai pagi music si sales ini sudah on. Tetap dengan lagu rohani nya.
beberapa lagu juga lagu kesukaan saya, tapi koq ya volumenya kali ini lebih kenceng dari minggu lalu. Satu jam berlalu, akhirnya tak tahan juga telinga saya.
Saya beranikan diri untuk meng-sms dia "Pagi dik, saya tetangga sebelah (sambil menyebut nama saya), boleh ya saya minta dikecilkan sedikit volume musik kamu, mksih atas perhatiannya. GBU"
Lama tidak ada jawaban. Volume musik masih kenceng..
Hm..mungkin sangking keras volume musik, dia pun tak dengar ada sms dari saya.
Satu jam berlalu, akhirnya ada sms masuk dari si sales ini.
"Oh ok Bu, bru baca smsnya, sy keluar td..maaf u ktdknyamannya..hehe"
Tak lama volume musik mengecil. Saya sms kembali menyampaikan terima kasih dan saya sampaikan juga kalau saya sebenarnya senang dengan lagu-lagu yang dia putar tapi rasanya lebih pas didengar tidak dengan volume yang keras.
Jadilah sampai sore itu saya bisa menikmati musik saya dan acara TV kesukaan saya tanpa terganggu volume musik tetangga.
Sungguh ini pengalaman yang unik untuk saya yang tadinya tidak perlu memikirkan soal tetangga yang membuat bising karena di perumahan instansi dulu jarak antara satu rumah dengan rumah tetangga tidak terlalu dekat.
Tapi saya merasa bersyukur sekali karena sesungguhnya dua tetangga saya ini sepertinya tetangga yang enak untuk dijadikan tetangga.
Semoga begitu lah selamanya.