Beruntung kalau hanya menjadi pendengar keluh kesah menantu atau mertua. Tapi ini benar-benar terlibat.
Bahkan saya mendapat ancaman akan di boikot oleh si mertua jika besok-besok saya ikut melibatkan diri.
Aduh...pusing...
Semua berawal dari telepon si anak meminta saya memesankan bunga untuk sang ibu dalam rangka hari Ibu tanggal 13 Mei yang lalu (Mother's Day nya orang Barat sana), karena hanya saya yang tinggal sekota dengan sang ibu.
Mengingat ini suatu niat baik tentu saya mengiyakan untuk membantu memesankan.
Awalnya saya memang hampir menolak. Karena saya ingat beberapa waktu yang lalu, dalam rangka ulang tahun si ibu, si anak dan menantunya juga meminta saya memesankan bunga untuk si ibu mertua dengan harga yang sudah mereka tentukan. Alih-alih si ibu mertua senang, ternyata si ibu mertua malah tidak senang dan menganggap si anak dan menantu nya boros, menghamburkan uang untuk karangan bunga yang begitu besar (sesuai harga tentu saja).Hebatnya si ibu mertua tahu berapa harga nya hanya dengan melihat besarnya karangan bunga tersebut. Belum lagi ada salah penulisan : seharusnya menulis Mommy ditulis "mummy"
Alamak....di situ saya sempat merasa kesal dengan si penerima pesan. Padahal jelas saya sebutkan cara penulisan "Mommy"
Tetapi mengingat pesan si anak ini bahwa untuk karangan bunga Mother's Day ini agar dibuat pengirimnya tidak hanya mereka berdua tapi dengan 2 saudaranya yang lain, saya pun merasa baik lah jika bunga ini saya pesankan dan pantaslah harga setengah juta untuk bunga yang dikirim oleh 3 anak, 2 menantu dan 3 cucu.
Tapi rupanya saya salah. Ternyata karangan bunga ini pun tidak menyenangkan si ibu.
Awalnya saya sempat mengira si ibu senang karena dari nada suaranya meminta saya datang untuk mengambil foto bunga tersebut untuk dikirimkan ke si anak dan menantu terdengar sangat antusias dan bersemangat. Tapi yang saya temui wajah yang ketat saat saya datang untuk memotret bunga tersebut.
Aaaastaga nagaaaaa......
Pagi itu saya disemprot, mengapa mau disuruh-suruh, kenapa tidak bilang tidak usah kirim bunga dan lain sebagainya.
Ujung-ujungnya saya diancam akan diboikot jika lain waktu ada bunga yang seperti itu lagi.
Ughhh.....
Saya lihat kebencian benar-benar sudah merasuk di hati si ibu mertua ini terhadap si menantu perempuannya, istri dari anak sulungnya itu. sehingga apa pun penjelasan saya tidak masuk di akalnya. termasuk penjelasan saya bahwa bunga ini kan bukan dari si menantu ini saja tapi dari semua anak, menantu dan cucu.
Saya malah disuruh mendengar alasannya mengapa dia membenci si menantu ini.
Saya benar-benar kehilangan akal.
Dulu jika melihat pertikaian menantu perempuan dan mertua perempuan, saya selalu menganggap bahwa hal tersebut terlalu diada-adakan. Sehingga saya sempat berjanji akan jadi menantu perempuan yang baik untuk mertua saya nanti. Saya tidak akan neko-neko, saya akan menuruti apa maunya, tidak banyak bantah dan sebagainya. Dan kalau saya nanti jadi mertua, saya juga tidak akan neko-neko, saya tidak akan galak pada menantu perempuan dan lain sebagainya.
Ternyata saya tidak sempat mengenal mertua perempuan saya (dulu) dan saya bakalan tidak akan punya menantu perempuan karena anak saya 2 perempuan :). Untunglah....
Kepada ibu saya pun saya pernah berpesan agar jangan galak-galak pada menantu perempuannya kelak.
Untunglah ibu saya dan menantu perempuan nya, yang sampai saat ini masih jadi satu-satu nya menantu itu baik-baik saja. malah boleh dibilang ibu saya sangat memperhatikan menantunya ini lebih dari perhatiannya ke saya.Tapi itu lah....masalah mertua dan menantu perempuan sepertinya akan ada sepanjang masa....
Foto : Mertua, menantu dan ipar yang akur







