Jumat, Januari 06, 2012

Taking Care of Your Back

Ternyata tulisan saya tentang "Renang dan HNP" cukup banyak mendapat respons. Secara epidemiologis, penderita HNP memang cukup banyak yakni 3 dari 5 orang di dunia menderita nyeri tulang belakang dengan penyebab macam-macam dan salah satunya HNP.
Rata-rata yang berkunjung ke blog saya, bertanya tentang bagaimana saya bisa melewati masa akut dan kembali beraktivitas tanpa harus operasi.
Tentang renang sudah pernah saya ulas, meski tidak cukup detail. Lain kali saya akan coba mengulas agar para HNPers bisa tahu gaya renang apa yang paling baik untuk penderita HNP.
Kali ini saya ingin share gerakan-gerakan yang dianjurkan untuk penderita HNP serta cara-cara menjaga tulang belakang kita. Mungkin bisa berguna untuk kita semua.
SELAMAT MENCOBA !


Minggu, Desember 04, 2011

Survey Pasar

Tidak mudah memang untuk lepas dari lingkungan lama dan masuk ke lingkungan baru terutama jika kita sudah berusia lanjut. Hal ini saya temui dalam usaha untuk mengajak ibu saya yang sudah lanjut usia (76 tahun) pindah dari rumah kami yang sudah kami tempati selama 40 tahun. Salah satu yang sering menjadi kekhawatiran beliau adalah berpisah dengan pasar Kampung Baru. Kehidupan sehari-harinya selama 40 tahun tinggal di Kampung Baru telah membuat ibu saya mengenal hampir semua pedagang di pasar itu.
Begitu juga sebaliknya. Yang unik lagi hampir semua pedagang di pasar itu memanggil ibu kami dengan "mami". Pedagang yang paling sering dibanggakannya adalah si Bahar tukang (sebutan khas beliau untuk menyebut penjual) daging langganannya di pasar itu. Kl saya menemaninya membeli daging, selalu dipujinya daging si Bahar ini "Bahar, ini anak saya jadi dokter karena makan daging Bahar ! "
Si Bahar selalu tersenyum bangga. Selain Bahar ada juga si Mala tukang sayur, si anu tukang ikan, tukang ayam sampai tukang sepeda tempat ibu saya membetulkan sepeda kalau sepedanya rusak. Yup, ibu saya dulu selalu belanja dengan bersepeda.
Setelah beberapa bulan menginap di rumah kami yang baru pun, ibu saya masih belum bisa melepaskan diri dari pasar Kampung Baru. Beli daging masih harus ke si Bahar, begitu juga bahan lainnya. Berkali-kali saya ajak belanja di pasar dekat rumah baru beliau tolak.
Minggu ini sedikit beda.
Sejak malamnya sudah saya dengungkan bahwa besok saya akan ajak beliau belanja di pasar inpres dekat rumah. Saya janjikan kalau beliau tidak akan kecewa. "Pasarnya lengkap mami, bersih lagi. Tukang babi pun ada" mencoba untuk meyakinkan beliau. Tukang yang satu ini perlu disebutkan agar dia semakin nyaman.
Akhirnya pagi tadi jadilah kami belanja di Pasar Inpres Titi Kuning, meski ibu saya sempat ragu : takut jadi perhatian karena orang baru di sana.
Belum lagi Jalan masuk menuju parkiran mobil yang memang pas-pasan untuk dilewati mobil sempat membuat ibu saya tidak nyaman. Tapi saya menenangkannya.
Los pertama yang kami kunjungi adalah los penjual ikan. Ternyata salah satu penjual ikan dikenalinya pernah jualan di Pasar Kampung Baru. Tapi tetap mami belum berniat membeli.
Lalu kami lanjut ke los penjual sayur. Saya lihat mami sudah mulai nyaman, mulai mengatakan mau beli ini dan itu.
Kami kemudian sampai ke penjual ayam. Rupanya si perempuan tionghoa tukang ayam ini dulu jualan di Kampung Baru. Mami terlihat senang sekali dan si tukang ayam ini pun rupanya mengenali beliau. Akhirnya ayam pun kami beli meski tidak ada rencana untuk itu. Tapi tidak apa-apa yng penting ibu saya senang. Kelihatan sekali kalau ibu saya langsung tidak merasa asing di pasar ini karena ada pedagang yang beliau kenal dan mengenal beliau.
Akhirnya belanjaan kami cukup banyak untuk lauk hari ini.
Sepanjang perjalanan pulang kami terus membicarakan si tukang ayam ini yang dulu jualan di Kampung Baru.
"Koq bisa kebetulan ya ketemu dia. Mestinya tadi kamu foto mami sama dia" katanya.
Ah iya juga ya, supaya dia makin mantap untuk seterusnya belanja di Pasar Inpres Titi Kuning ini.
Semoga pelan-pelan ibu kami bisa nyaman di tempat kami yang baru ini.
Amin...amin...:-)
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Kamis, Oktober 13, 2011

Catatan Kecil Tentang Penjual Koran

Sudah hampir satu tahun terakhir, dalam perjalanan saya setiap pagi mengantar anak ke sekolah, saya membeli koran secara lepas lewat penjaja koran di perempatan Waspada ; perempatan Jl. Brigjend. Katamso dengan Jl. Pandu.
Penjajanya seorang ibu tidak terlalu tua (mungkin seumuran saya) yang kadang dibantu oleh 2 orang anak laki-laki, dugaan saya anaknya. Dia lah yang selalu berjalan diantara kendaraan yang berhenti di lampu merah menjajakan koran.
Sementara dia yang berkeliling, suaminya duduk di emperan di salah satu sisi jalan Brigjend Katamso menjaga stok koran yang akan dijual. Kalau kebetulan koran yang diinginkan pembeli tidak ada ditangannya, maka dia akan berlari menyebrang dan mengambilnya di tempat suaminya berada.
Karena hampir setiap hari saya membeli koran lewat ibu ini, dia pun akhirnya menjadi terbiasa dengan saya.
Kadang karena tidak ada uang pas untuk membayar koran, saya menolak untuk membeli. Tapi dia selalu bilang "tidak apa-apa, uangnya besok saja Bu.."
Begitu juga sebaliknya kalau kebetulan saya membeli koran lalu dia tidak mempunyai uang kembalian, saya juga bilang "tidak apa-apa, hitung saja untuk koran hari berikutnya"
Tak jarang juga jika dilihatnya saya membuka jendela mobil karena ingin membayar, koran yang biasa saya beli diletakkannya di dashboard mobil. Padahal uang yang saya berikan adalah uang untuk koran kemarin.
Suatu bentuk kepercayaan dari orang kecil yang membuat hati ini miris.
Semakin miris hati saya ketika saya menyodorkan uang ingin membayar tapi harus berkejaran dengan lampu yang menjelang merah. Belum lagi desah nafas anak saya yang ingin cepat tiba disekolah tapi juga khawatir jika maminya ini ambil koran tapi tidak dibayar.

Pagi tadi seperti biasa kami lewat di perempatan tersebut. Kami berhenti karena lampu meyala merah dan saya memanggil ibu penjaja koran tersebut. Sudah lama rasanya saya tidak membeli koran. Beberapa hari sebelumnya saya lihat bukan dia yang menjaja di perempatan tersebut.

Setelah koran ada di tangan saya, dia sempatkan cerita sambil menyiapkan uang kembalian.
"Ibu tau suami saya yang biasa duduk di seberang sana ? " tanyanya
"Dia sudah meninggal tanggal 3 Oktober yang lalu" sambungnya lagi dengan wajah yang datar.
Saya yang kaget.
"Meninggal di rumah sakit, sakit jantung dan gula" jawabnya ketika saya tanya meninggal karena apa dan di mana.
Pantas beberapa hari lalu saya tidak melihat mereka di perempatan Waspada itu.
Sesaat lampu menyala hijau, saya harus segera bergerak maju.
"Kuat lah ibu ya.." sahut saya sambil bergerak maju.
Dia tersenyum sambil mengangguk.

Saya merasa prihatin, karena pasti tidak mudah bagi nya.
Lalu saya teringat pada ucapan seorang kenalan tentang para penjaja koran terutama penjaja koran yang ibu-ibu.
"Aku tidak perlu koran, tapi aku mau beli koran kalau penjajanya ibu-ibu, kalau yang lain belum tentu, Karena pasti ibu-ibu berjuang untuk anaknya"

Yah, sepertinya saya juga harus begitu.
Mudah-mudahan perbuatan kecil saya (membeli koran darinya) bisa membantu dia.

Selasa, Agustus 09, 2011

Takdir Penderita HNP

Saya baru saja kembali dari tugas selama 6 hari di Manado.
Tadi pagi saat buka email, saya melihat ada 1 email yang masuk di inbox saya. Email tersebut berasal dari seorang penderita HNP yang mempostingkan komentarnya di blog saya "Akar ku" di posting "Renang dan Hernia Nucleous Pulposis"
Ini bukan komentar yang pertama yang saya terima terkait posting tersebut di blog saya. Sudah ada beberapa komentar sebelumnya yang masuk dari teman-teman di dunia maya yang memiliki kondisi penyakit yang sama dengan yang saya miliki.
Tapi komentar yang ini sungguh menggugah perasaan saya untuk menuliskan posting ini.
Sebut saja si A adalah seorang mantan penderita HNP. Dia sudah menjalani operasi yang dikenal dengan sebutan Laminectomy sebagai terapi untuk HNP nya beberapa tahun yang lalu.
Tapi belum lama ini mungkin karena lalai, dia mengangkat barang yang berat sehingga keluhan yang sama datang lagi.
Yang memprihatinkan saya dari postingnya adalah rasa takutnya mengingat saat ini dia sudah berkeluarga dan punya anak yang masih kecil.
"Sungguh tak pernah ada rasa takut yang seperti ini, saat ini saya sudah berkeluarga, dan anak saya yg berusia satu tahun sedang sangat lucu2nya. Saya sedih karena kemarin saya tak mampu menggendongnya" , begitu tulisnya.

Bagi yang tidak pernah merasakan sakitnya HNP ini mungkin apa yang disampaikan oleh si A ini sulit untuk bisa dipahami, tapi bagi saya sungguh membuat saya teringat akan rasa sakit yang saya alami, perasaan takut karena tak mampu bekerja sementara anak-anak membutuhkan saya.
Tentu berat baginya sebagai seorang ayah yang melihat anak yang sedang lucu-lucunya, ingin direngkuh dan digendong tapi tidak mampu karena sakitnya.

Lalu saya pun membalas postingnya, mencoba memberi saran bahwa HNP tidak harus membuat dia tidak bisa menggendong anaknya. Ada banyak cara untuk tetap bisa menggendong si kecil.

Lalu saya teringat pada diri saya sendiri.
Puji Tuhan bahwa setelah 4 tahun pasca HNP yang kedua kalinya, saya bisa bekerja dan beraktivitas dengan baik.
Malah waktu tugas di Manado saya sempat snorkling di Bunaken, melihat kehidupan bawah laut yang indah.
Sungguh sulit dipercaya, karena 4 tahun yang lalu saya pernah tidak bisa turun dari tempat tidur, jalan dengan nyeri seperti disayat-sayat, jalan pun harus menyeret kaki yang sakit, duduk salah, berdiri pun salah. Bahkan pernah tidak sanggup tidur terlentang dan harus tidur telungkup.
Yah..Tuhan memang Maha Penyembuh...

Sekarang, meski tetap tidak bisa terlalu lama duduk, terlalu lama berdiri dan tidak bisa terlalu lama jongkok dan kadang-kadang merasakan pegal di tungkai serta perasaan bengkak dan kaku pada betis, saya sangat bersyukur bahwa saya secara umum sudah pulih.
Tapi saya tetap harus menjaga diri : tidak lagi mengangkat barang berat sembarangan, memperhatikan posisi duduk, tetap renang selama setengah jam sebanyak 2 atau 3 kali seminggu. Bahkan kalau saya harus tugas di luar kota, saya selalu membawa perlengkapan renang bersama saya.

Saya harap semua penderita HNP atau mantan penderita HNP tidak lupa bahwa adalah takdir penderita HNP untuk melakukan aktivitas renangnya.

Tetap semangat buat sesama HNP-ers...!!

Kita pasti bisa pulih dan beraktivitas kembali...!!



Jumat, Mei 20, 2011

Si kecil ku 13 tahun Hari Ini

20 Mei 13 tahun yang lalu, si kecil kami lahir dengan berat badan 3400 gram dan panjang 51 cm. Lebih berat 100 gram dan lebih panjang 2 cm dari kakaknya.


Usia ku saat itu 32 tahun dan sedikit merasa kagok dengan proses kelahirannya karena jarak kelahiran kakaknya dengan si kecil ini terpaut 7 tahun meski usiaku saat itu masih layak untuk melahirkan.


Si kecil kami ini lahir di masa krisis demokrasi negara kita ini. Beberapa hari sebelum kelahirannya, terjadi kerusuhan di Medan yang kemudian menjalar juga hingga Jakarta.

Kami sempat khawatir bagaimana jika saatnya tiba kami bisa sampai dengan selamat di rumah sakit jika harus melewati kerusuhan yang terjadi.

Masih segar dalam ingatan lengangnya lalu lintas di depan rumah kami beberapa hari sebelum aku melahirkan, yang terdengar hanya suara tembakan dan suara orang-orang yang berteriak dan melempar ruko-ruko yang ada disepanjang jalan.



Tapi ternyata Tuhan sungguh baik. Di tanggal 19 sore, saat tanda-tanda kelahiran muncul (meski saya sempat bingung apakah ini his atau mules karena paginya makan sambal petai..:)suasana sudah lebih tenang sehingga kami bisa meluncur dengan aman.

Tapi masih ada kendala lain, karena ternyata dokter yang menangani ku tidak berani keluar rumah, merasa masih belum aman, sehingga harus dijemput dengan ambulans.


Sekitar jam 8 malam, dokter muncul di kamar bersalin. Aku hanya bisa nyengir menyambutnya.

Perawat kemudian menawarkan celemek untuk digunakan dokter, tapi beliau menolak.

Tak lama dia mulai bersiap-siap untuk melakukan periksa dalam. Tiba-tiba aku merasa seperti ada sesuatu yang mendorong dari dalam tadinya aku tidak menyadari itu apa ternyata tiba-tiba tanpa bisa aku tahan, selaput ketuban ku pecah dan air ketuban muncrat ke dokter yang sedang bersiap-siap. Baju nya basah kuyup hingga setinggi pinggang, aku merasa tidak enak tapi itu kan bukan salah ku, mengapa tadi dia menolak celemek yang yang ditawarkan perawat.

Yang aku harapkan tidak ada aroma petai di situ...haha...



Tapi sampai jam 11 malam, meski his sudah makin kencang dan sering koq sepertinya aku tidak punya tenaga untuk mengeluarkan bayi yang kami tunggu-tunggu.

Dokter sudah mulai terlihat tidak sabar. Diperintahkannya bidan untuk naik mendorong perutku dari arah atas. Tapi aku keberatan karena aku tahu risikonya.

"Jangan pegang perut saya, saya makin tidak bisa konsentrasi nanti" teriak saya.

"Baik lah, tapi kalau kali ini tidak berhasil juga di vacum ya ?" kata dokter ku itu sedikit kesal.



Waduh, aku makin takut, membayangkan kepala bayi ku disedot dengan alat yang mirip sedotan wc lalu kepala bayi ku jadi munjul seperti cone head...Oh..no...no....

Ayo, ngedan yang kuat.


Akhirnya dengan sekuat tenaga yang mungkin terpicu karena rasa ngeri membayangkan kepala bayi ku nanti seperti conehead, aku pun mengedan dan akhirnya muncul lah si kecil kami yang terlihat sangat jangkung dengan kaki nya yang panjang seperti korek api.

Meski berat lahirnya lebih berat 100 gram dari kakaknya tapi dia terlihat lebih kurus dari kakaknya yang lahir dengan tubuh yang gempal dan bulat.


Apa pun itu, Puji Tuhan dia lahir sehat, lengkap dan menangis kuat.

Dia lahir pada Hari Kebangkitan Nasional, sangat nasionalis menyusul kakaknya yang lahir pada Hari Kemerdekaan.



Saat merapikan aku, dokter sedikit ngedumel.."mentel kali si Maria ini, tidak mau dipeganglah perutnya, tidak bisa konsentrasi lah katanya..disemprot pula aku tadi" katanya

Aku lagi-lagi hanya bisa nyengir.



Itulah akhirnya bayi yang kemudian diberi nama Constantia Maria Hasianne hadir dalam hidup ku. Hasianne adalah nama yang khusus aku berikan untuknya. Berasal dari bahasa Batak Toba "hasian" yang berarti sayang. Aku memang ingin menunjukkan identitas darah Batak yang dimilikinya. Meski kadang dia malu memakai nama itu, karena sering diganggu dengan menyebutkan nama "hasianne" dengan menggunakan "e" pepet sehingga terdengar tidak indah ditelinga.



Dengan jarak usia yang terpaut 7 tahun dari kakaknya, sedikit berkuranglah kerepotan menjaga dua anak karena Tita si kakak, lebih banyak diasuh oleh neneknya.


Setelah mereka beranjak remaja sering saya menyesal, kenapa lama sekali mengambil keputusan untuk memberi adik bagi si kakak, sehingga mereka seperti terlihat sulit untuk kompak. Untuk menarik perhatian si kakak, sering si adik mengambil sikap seolah-olah dia sebaya dengan kakaknya.

Lucu dan unik melihat interaksi mereka berdua.


Sekarang setelah si kakak jauh, aku sangat mensyukuri keadaan mereka yang terpaut usia 7 tahun. Karena meski si kakak jauh belajar di seberang pulau, masih ada yang bisa aku peluk-peluk, masih ada yang bisa menemani aku kemana-mana.

Si kecil ku ini memang selalu setia bersama ku. Dia selalu tahu suasana hati ku.

Dia lah sumber kegembiraanku, celutukannya selalu membuat aku tertawa.



Dek..di hari ulang tahun adik ini, mami mau bilang kalau adik adalah hadiah dari Tuhan yang paling indah setelah kakak Tita. Tanpa adik mami akan sangat merasa kesepian.

Semoga di usia yang semakin bertambah ini, adik makin rajin dan pintar, selalu diberkati Tuhan dengan kesehatan dan kebijakan sehingga menjadi anak kesayangan Tuhan dan semua orang. Dan adik harus jadi yang lebih baik dari mami ya Nak..

Mami sangat sangat menyayangi adik...



Rabu, Mei 04, 2011

Sang Tetangga

Selama 45 tahun sejak dilahirkan saya tinggal di perumahan instansi bersama orang tua. Rumah kami besar, rumah peninggalan Belanda dengan kamar yang luas dan langit-langit yang tinggi, serta halaman depan dan belakang yang sangat luas.

Tapi sejak 3 minggu ini saya mulai menempati rumah yang bisa saya sebut rumah sendiri. Rumah type 70 di atas lahan kecil yang berukuran 6 x 16 yang saya beli 2 tahun yang lalu dengan cara mencicil.

Akhirnya saya pindah dari rumah berkamar 4 yang masing-masing kamar memiliki luas rata-rata 16m2, ke rumah mungil berkamar 3. Dari rumah yang memiliki halaman luas ke rumah yang luas halaman keseluruhan (depan dan belakang) hanya sekitar 20 m2.

Tapi dari awal saya tidak pernah khawatir saya akan menemui kesulitan untuk beradaptasi dalam rumah mungil.
Justru yang menjadi "concern" adalah bagaimana beradaptasi terhadap lingkungan tetangga yang tinggal berbagi dinding dengan rumah saya.
Inginnya sih membeli rumah sudut, supaya aku hanya "berurusan" dengan 1 tetangga, tapi apa mau dikate rumah sudut lebih mahal.

Akhirnya saya harus terima untuk "berurusan" dengan 2 tetangga di kiri dan kanan.


Dan saya berusaha menjadi penghuni yang baik dan menghargai keberadaan 2 tetangga yang berbagi dinding dengan saya, misalnya dengan tidak memasang music atau memutar volume TV keras-keras.

Nah, tetangga di kanan adalah keluarga dengan 4 orang anak, 2 laki-laki dan 2 perempuan yang sudah beranjak remaja. Pertama-tama aku menghabiskan weekend di sana, anak perempuan sulungnya sering melirik ke arah rumah ku. Anaknya pemalu tapi kelihatan kalau dia curious sekali. Pernah sekali aku tegur dan aku tanya sekolahnya di mana.


Setelah saya tinggal di sana, baru saya perhatikan kalau mereka itu tetangga yang "baik". Tidak pernah ada kedengaran suara berisik dari rumah di kanan itu, meski ada 4 anak remaja.Dengan jumlah anggota 6 orang dalam rumah tersebut, mestinya lebih berisik dari kami yang hanya berdua.


Saya kadang sampai heran, koq begitu tenangnya rumah di kanan ini seperti rumah yang tidak ada penghuninya. Satu-satunya hal yang menandakan ada penghuni adalah, saat malam atau pagi hari ketika masih sepi, bisa saya dengar derit pintu kamarnya yang (sepertinya) kurang diberi minyak, hahaha...


Kebiasaan lain yang unik dari tetangga sebelah adalah kebiasaan si bapak mencucui dan membersihkan mobilnya dua kali sehari, pagi dan malam hari. makanya tak heran mobil innova hitam mereka selalu tampil kinclong, beda dengan mobil saya yang dekil.

Tetangga yang di kiri lain lagi. Tetangga di kiri ini seorang anak muda, masih single.
Hari Minggu pertama saya tinggal di sana, pagi-pagi sudah terdengar musik dari rumah tersebut. Musiknya memang lagu-lagu Rohani, tapi diputar lumayan keras.
Pernah juga saya dengar dia berkaraoke sendiri dengan suara yang tidak terlalu bagus lah.
Sempat juga saya khawatir, bagaimana kalau jika nanti si pemuda ini mengajak teman-temannya berkaraoke, wah..bisa pecah telinga saya.
Suatu hari saya berkesempatan beramah tamah dengannya di depan rumah. Ternyata dia bekerja sebagai sales produk pembersih untuk kamar bedah dari suatu perusahaan farmasi yang cukup tekenal. Ternyata (lagi) rumah sakit tempat kerja saya merupakan salah satu rumah sakit sasaran di area kerjanya. Dia sempat tidak menyangka ketika saya katakan bahwa saya kenal atasannya dan saya kerja di rumah sakit.
"Wah...saya harus jadi tetangga yang baik nih" katanya setelah tahu informasi tentang saya.
Dalam hati saya pun bersyukur mengetahui tentang dia, merasa punya akses untuk bertindak jika dia "macam-macam". Uuughhhh...sorry saya tidak bermaksud sombong, tapi untuk jaga-jaga.

Tak lama setelah bincang-bincang itu, saya berkesempatan bertemu dengan atasannya di rumah sakit. Lalu saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk meminta no hp si sales ini.
Sengaja saya tidak minta langsung ke si sales ini, khawatir dia jadi ge-er (hehe..)

Hari Minggu lalu, mulai pagi music si sales ini sudah on. Tetap dengan lagu rohani nya.
beberapa lagu juga lagu kesukaan saya, tapi koq ya volumenya kali ini lebih kenceng dari minggu lalu. Satu jam berlalu, akhirnya tak tahan juga telinga saya.
Saya beranikan diri untuk meng-sms dia "Pagi dik, saya tetangga sebelah (sambil menyebut nama saya), boleh ya saya minta dikecilkan sedikit volume musik kamu, mksih atas perhatiannya. GBU"
Lama tidak ada jawaban. Volume musik masih kenceng..
Hm..mungkin sangking keras volume musik, dia pun tak dengar ada sms dari saya.
Satu jam berlalu, akhirnya ada sms masuk dari si sales ini.
"Oh ok Bu, bru baca smsnya, sy keluar td..maaf u ktdknyamannya..hehe"
Tak lama volume musik mengecil. Saya sms kembali menyampaikan terima kasih dan saya sampaikan juga kalau saya sebenarnya senang dengan lagu-lagu yang dia putar tapi rasanya lebih pas didengar tidak dengan volume yang keras.

Jadilah sampai sore itu saya bisa menikmati musik saya dan acara TV kesukaan saya tanpa terganggu volume musik tetangga.

Sungguh ini pengalaman yang unik untuk saya yang tadinya tidak perlu memikirkan soal tetangga yang membuat bising karena di perumahan instansi dulu jarak antara satu rumah dengan rumah tetangga tidak terlalu dekat.
Tapi saya merasa bersyukur sekali karena sesungguhnya dua tetangga saya ini sepertinya tetangga yang enak untuk dijadikan tetangga.

Semoga begitu lah selamanya.