Tahun ini adalah tahun ke 16 saya bekerja di Rumah Sakit Santa Elisabeth. Tahun 1993, selesai wisuda saya langsung di terima bekerja sebagai dokter jaga di UGD setelah sebelumnya sempat 2 minggu menjadi dokter di sebuah klinik di dekat rumah.
Selama 2 minggu di klinik tersebut seingat saya hanya ada 2 pasien yang datang berobat. Seorang ibu dan seorang gadis berusia 18 tahun yang dibawa ayahnya. Ayahnya curiga bahwa anak gadisnya sudah tidak perawan lagi dan dia ingin saya memeriksanya. Saya bisa saja memeriksanya tapi karena hal ini bisa menyangkut hukum maka saya menyarankan bapak itu membuat pengaduan ke polisi lalu polisi akan mengeluarkan surat visum. Berdasarkan surat visum tersebutlah saya akan memeriksa anak nya.
Begitu saya diterima bekerja di Rumah Sakit Santa Elisabeth, saya pun meninggalkan klinik tersebut. Senang dan membanggakan rasanya bisa diterima sebagai dokter jaga di RS St Elisabeth. Dari belum tamat saya sudah bermimpi suatu hari saya bisa bekerja di rumah sakit ini.
Saat saya masuk ada beberapa senior saya yang juga bekerja sebagai dokter jaga, bahkan ada juga mantan dosen saya di FK USU ; dr. Sorimuda Sarumpaet. Saat itu hampir semua dokter spesialis yang terkenal yang umumnya juga adalah dosen-dosen saya, ada di rumah sakit ini. Jadi awal-awal saya merasa grogi juga, seperti masuk ke sarang harimau.
Pertama kali saya dinas, saya langsung diberi dinas malam menggantikan dokter jaga yang keluar karena diterima untuk pendidikan dokter spesialis. Tidak ada perkenalan dan orientasi kerja sebelumnya. Perkenalan langsung dilakukan hari itu juga dan langsung mulai start sebagai dokter jaga..uuuhhh...
Sehingga saya mengambil inisiatif sendiri untuk datang lebih awal dari jadwal jaga, diantar dan diperkenalkan oleh Suster Kepala Keperawatan yang menjabat saat itu.
Hanya beberapa jam lah saya orientasi melihat bagaimana dokter jaga bekerja menerima, memeriksa dan memberikan terapi. Saya juga melihat bagaimana koordinasi dan hubungan kerja dokter dengan perawat-perawat lainnya di UGD. Waktu itu belum ada yang namanya SOP (Standar Operation Procedure) yang tertulis, jadi semua bekerja hanya berdasarkan kebiasaan saja. Masing-masing dokter juga bekerja berdasarkan apa yang didapat di bangku kuliah dan pengalaman selama co asisten lalu ditambah modifikasi sana sini berdasarkan pengalaman.
Saya gak ingat pasien apa saja yang datang berobat di malam pertama itu. Tapi yang saya ingat adalah peristiwa kebakaran yang terjadi di kamar dokter jaga saat saya tidur.
Malam itu saya tidur di kamar dokter jaga yang berada di ujung lorong yang berlawanan dengan lorong di mana UGD berada. Dari pintu gerbang utama rumah sakit,UGD berada di lorong yang ke kiri, maka kamar dokter jaga berada di lorong yang ke kanan. Saya ingat, saya terbangun karena ada bunyi berdesis dan suara seperti ranting terbakar. Begitu saya lihat ternyata ada api yang menjalar dikabel Air Condition, saya langsung meloncat dari tempat tidur dan lari keluar kamar menuju UGD.
Saat itu rumah sakit belum memiliki sistem tanggap darurat kebakaran sehigga saat saya beritahu satpam kalau ada kebakarangan mereka bingung, alat pemadam kebakaran juga tidak ada. Tapi untunglah akhirnya api bisa dikendalikan dengan alat sederhana. Malam itu saya tidur di salah satu tempat tidur UGD. Untung juga malam itu tidak banyak pasien datang ke UGD.
Sungguh suatu ucapan selamat datang yang tidak biasa...
Bekerja di UGD RS St Elisabeth membuat saya menimba banyak pengalaman. Letak rumah sakit yang berada di pusat kota, dikelilingi oleh arus lalu lintas yang padat apalagi ada 2 sekolah yang terkenal, Sekolah Immanuel dan Sekolah Harapan di dekat rumah sakit, membuat banyak kasus-kasus kecelakaan lalu lintas dan kasus luka-luka akibat perkelahian antar sekolah datang berobat ke UGD. Apalagi kalau malam minggu, karena daerah sekitar rumah sakit adalah ajang balap liar dan ajang dugem.
Selain kasus yang beragam, dinas malam di rumah sakit memang tak pernah membosankan. Selalu ada ritual memasak indomie atau nasi goreng di UGD, lalu kami makan ramai-ramai (jika tidak ada pasien tentunya) termasuk dengan Satpam yang bertugas malam.
Rasanya nasi goreng dan indomie UGD adalah yang paling enak yang pernah saya rasakan. Pernah sekali waktu dinas malam, seorang dokter senior lewat sehabis visit dan kami ajak makan nasi goreng. Beliau pun memuji nasi goreng UGD...hahaha...apa yang gak enak kalau perut lapar ya...?
Sampai sekarang setelah saya tidak lagi berdinas di UGD, saya masih sering rindu mencicipi indomie dan nasi goreng yang dibuat UGD.
Ada juga pengalaman lucu yang lain sewaktu dinas malam.
Kadang-kadang selesai menangani pasien di tengah malam, saya tidak langsung masuk ke kamar jaga tapi duduk-duduk mengobrol ngalor ngidur dengan perawat. Kadang cerita soal hantu-hantu yang (katanya) ada di rumah sakit. Tapi saya sendiri tidak pernah merasakan adanya gangguan hantu-hantu tersebut.
Suatu malam, setelah ngobrol tentang hantu, saya pun pamit untuk tidur. Sebelum tidur saya ke kamar mandi yang ada diseberang kamar dokter jaga. Beberapa hari terakhir ini, handel pintu kamar mandi sering macet dari arah dalam, sehingga sebelum masuk kamar mandi saya memastikan handeltidak macet. Lalu saya pun masuk dan mengunci pintu. Tapi begitu saya hendak keluar, pintu kamar mandi tidak bisa terbuka dari dalam. Saya coba beberapa kali tidak juga berhasil. Waduh, gawat ! Lalu saya naik ke bak mandi dan berteriak memanggil Desmanto, salah satu erawat UGD yang jaga malam bersama saya,melalui jendela di atas bak mandi. Tapi sepertinya sia-sia karena kamar dokter jaga berada di ujung lorong yang satu sementara UGD berada di ujung lorong yang lain. Putus asa, saya duduk di toilet. Saya sudah pasrah, sepertinya saya harus menunggu di kamar mandi sampai ada pasien. Kalau ada pasien, biasa perawat UGD menelepon ke kamar jaga. Kalau telepon lama tak diangkat, perawat pasti akan datang ke kamar jaga dan saat itulah kesempatan saya untuk berteriak memberitahu perawat kalau saya terkunci di kamar mandi. Tapi itu artinya saya hanya bisa duduk di toilet menunggu sampai ada pasien.
Wah, nggak lah. Saya harus coba berteriak sampai perawat mendengar. Lalu saya naik lagi ke bak dan berteriak sekuatnya. Kali ini usaha saya berhasil, Desmanto mendengar dan menyahut dari arah UGD.
"Ya..siapa...? " saya dengar dia menyahut
"Saya Des, dokter Maria. Saya terkunci di kamar mandi.. ! " teriak saya lagi
Tak lama Desmanto pun datang dan membukakan pintu kamar mandi dari luar. Aduh, lega rasanya...
Desmanto terheran-heran dan saya menceritakan kenapa saya bisa terkunci di kamar mandi.
"Memang saya dengar nama saya dipanggil-panggil, tapi saya pikir itu hantu, Dok.." katanya sambil terkekeh-kekeh.
Hantu gundulmu Des...
Ada pula pengalaman yang sempat membuat deg-degan.
Suatu hari saat saya berdinas, seorang karyawan dari unit farmasi datang berobat. Katanya telapak tangannya kemasukan duri ikan. Saya lihat telapak tangannya tidak ada luka tapi teraba benda bulat yang keras sebesar kacang kedele di telapak tangannya. Saya memang heran, bagaimana mungkin ada benda yang katanya duri ikan tapi teraba bulat dan tidak terlihat pula jalan masuknya benda tersebut hingga bisa ada di bawah kulit telapak tangan.
Dia minta saya mengeluarkannya. Awalnya saya ragu dan berencana untuk merujuknya ke dokter bedah saja.
Tapi dia keberatan, "Dokter saja lah yang mengeluarkan" begitu katanya.
Ya sudah, saya pun meminta perawat mempersiapkan semua perlengkapan bedah minor. Saya akan mengeluarkan benda asing itu.
Setelah melakukan pembiusan lokal, saya melakukan insisi tepat diatas area di mana ada benda asing tersebut. Tapi herannya setelah saya buka, saya tidak menemukan benda asing yang sebesar kacang kedelai itu. Saya eksplorasi tapi tidak juga saya temukan. Aneh, di mana salah saya..
Akhirnya saya menyerah dan saya katakan kepada karyawan tersebut bahwa saya ingin merujuknya ke dokter bedah. Dia yang tadinya menolak akhirnya setuju. Dr. Erwin Dharma Kadar ahli bedah ortopedi yang terkenal menjadi pilihan saya.
Instruksi beliau agar pasien segera dibawa ke kamar bedah.
Satu jam berlalu, saya didatangi oleh perawat kamar bedah mengatakan saya dipanggil Dr. Erwin. Bagi kami dokter UGD, kamar bedah itu sarang penyamun tempat dokter-dokter dan perawat-perawat yang galak bersemayam. Saya sempat takut juga tapi sudahlah..
Sesampai di kamar bedah, saya lihat karyawan tadi masih terbaring di meja operasi dengan tangan terulur ditutupi kain duk, dikelilingi oleh perawat.
Saya langsung disambut dengan bentakan keras Dr. Erwin.
"Kau Dokter Maria ?"
" Iya Dokter.." jawab saya mencoba tenang.
"Kau tahu apa yang sudah kau lakukan dengan pasien itu?" bentaknya keras
"Ya, saya tahu Dok. " jawab saya mantap
Lalu saya menceritakan temuan saya dan apa yang saya lakukan selanjutnya terhadap pasien tersebut.
"Tamatan mana kau ?"
"Dari USU, Dokter " jawab saya
"Kau lakukan hal yang kau lakukan tadi waktu di pendidikan " tanyanya masih dengan suara yang keras.
" Iya, Dokter" Apa yang tidak kami lakukan sewaktu kami pendidikan.
Lalu beliau pun mengomel dan menceritakan bahwa beliau tidak menemukan apa pun dari luka insisi yang telah saya lakukan meski dia sudah menggunakan C Arm. Saya hanya terdiam dengan rasa heran mengapa kami dengan kompetensi masing-masing tidak bisa menemukan benda asing yang jelas-jelas teraba oleh saya di telapak tangan si pasien.
Setelah puas mengomel, beliau pun menyuruh saya kembali ke UGD.
Di UGD saya disambut dengan bermacam-macam pertanyaan. Tak lama Dr. Erwin Dharma Kadar datang ke UGD. Saya dan perawat-perawat lain menduga dia akan melanjutkan omelannya terhadap saya, ternyata tidak. Dia menyapa saya dengan ramah dan menepuk pundak saya sambil pamit pulang.
Setelah dia hilang dari pandangan, seorang perawat kamar bedah yang ikut bersama dia menyampaikan ke saya, kalau sewaktu saya dipanggil, Dr. Erwin berkata ke perawat kamar bedah kalau saya akan dibuatnya menangis.
Ketika kemudian saya tidak menangis, perawat bedah mengganggu beliau. Tapi beliau menjawab katanya beliau tidak sampai hati juga setelah melihat wajah saya yang memelas.
Wah...padahal saya tidak merasa ada memasang wajah memelas...hehe
Sejak itu hubungan saya dengan Dr. Erwin Dharma Kadar malah menjadi baik dan akrab. Beliau sering mampir ke UGD untuk sekedar menanyakan apakah UGD aman-aman.
Ternyata tidak ada yang perlu ditakutkan dari kamar bedah itu..
Kembali ke si karyawan, saya dengar-dengar benda asing yang ada di telapak tangannya itu sebenarnya susuk yang salah tempat, sehingga ingin dia keluarkan. Mungkin juga ya. makanya saya tidak menemukan luka jalan masuk benda asing tersebut. Tetapi saya tidak pernah mempertanyakan hal tersebut kepada yang bersangkutan.
Oh...susuk...susuk....