Selasa, Mei 15, 2012

Mertua perempuan dan menantu perempuan

Untuk kedua kalinya saya berada di antara pertikaian menantu dan mertua. Seperti pelanduk diantara gajah yang bertikai, membuat saya menjadi serba salah. Pertikaian mereka memang sudah lama berlangsung. Tidak pernah pas tingkah laku si menantu perempuan ini di mata si mertua perempuan. Si mertua adalah tante saya dan si menantu adalah istri sepupu saya.
Beruntung kalau hanya menjadi pendengar keluh kesah menantu atau mertua. Tapi ini benar-benar terlibat.
Bahkan saya mendapat ancaman akan di boikot oleh si mertua jika besok-besok saya ikut melibatkan diri.
Aduh...pusing...

Semua berawal dari telepon si anak meminta saya memesankan bunga untuk sang ibu dalam rangka hari Ibu tanggal 13 Mei yang lalu (Mother's Day nya orang Barat sana), karena hanya saya yang tinggal sekota dengan sang ibu.
Mengingat ini suatu niat baik tentu saya mengiyakan untuk membantu memesankan.
Awalnya saya memang hampir menolak. Karena saya ingat beberapa waktu yang lalu, dalam rangka ulang tahun si ibu, si anak dan menantunya juga meminta saya memesankan bunga untuk si ibu mertua dengan harga yang sudah mereka tentukan. Alih-alih si ibu mertua senang, ternyata si ibu mertua malah tidak senang dan menganggap si anak dan menantu nya boros, menghamburkan uang untuk karangan bunga yang begitu besar (sesuai harga tentu saja).Hebatnya si ibu mertua tahu berapa harga nya hanya dengan melihat besarnya karangan bunga tersebut. Belum lagi ada salah penulisan : seharusnya menulis Mommy ditulis "mummy"
Alamak....di situ saya sempat merasa kesal dengan si penerima pesan. Padahal jelas saya sebutkan cara penulisan "Mommy"

Tetapi mengingat pesan si anak ini bahwa untuk karangan bunga Mother's Day ini agar dibuat pengirimnya tidak hanya mereka berdua tapi dengan 2 saudaranya yang lain, saya pun merasa baik lah jika bunga ini saya pesankan dan pantaslah harga setengah juta untuk bunga yang dikirim oleh 3 anak, 2 menantu dan 3 cucu.
Tapi rupanya saya salah. Ternyata karangan bunga ini pun tidak menyenangkan si ibu.
Awalnya saya sempat mengira si ibu senang karena dari nada suaranya meminta saya datang untuk mengambil foto bunga tersebut untuk dikirimkan ke si anak dan menantu terdengar sangat antusias dan bersemangat. Tapi yang saya temui wajah yang ketat saat saya datang untuk memotret bunga tersebut.
Aaaastaga nagaaaaa......
Pagi itu saya disemprot, mengapa mau disuruh-suruh, kenapa tidak bilang tidak usah kirim bunga dan lain sebagainya.
Ujung-ujungnya saya diancam akan diboikot jika lain waktu ada bunga yang seperti itu lagi.
Ughhh.....
Saya lihat kebencian benar-benar sudah merasuk di hati si ibu mertua ini terhadap si menantu perempuannya, istri dari anak sulungnya itu. sehingga apa pun penjelasan saya tidak masuk di akalnya. termasuk penjelasan saya bahwa bunga ini kan bukan dari si menantu ini saja tapi dari semua anak, menantu dan cucu.
Saya malah disuruh mendengar alasannya mengapa dia membenci si menantu ini.
Saya benar-benar kehilangan akal.

Dulu jika melihat pertikaian menantu perempuan dan mertua perempuan, saya selalu menganggap bahwa hal tersebut terlalu diada-adakan. Sehingga saya sempat berjanji akan jadi menantu perempuan yang baik untuk mertua saya nanti. Saya tidak akan neko-neko, saya akan menuruti apa maunya, tidak banyak bantah dan sebagainya. Dan kalau saya nanti jadi mertua, saya juga tidak akan neko-neko, saya tidak akan galak pada menantu perempuan dan lain sebagainya.
Ternyata saya tidak sempat mengenal mertua perempuan saya (dulu) dan saya bakalan tidak akan punya menantu perempuan karena anak saya 2 perempuan :). Untunglah....
Kepada ibu saya pun saya pernah berpesan agar jangan galak-galak pada menantu perempuannya kelak.
Untunglah ibu saya dan menantu perempuan nya, yang sampai saat ini masih jadi satu-satu nya menantu itu baik-baik saja. malah boleh dibilang ibu saya sangat memperhatikan menantunya ini lebih dari perhatiannya ke saya.


Tapi itu lah....masalah mertua dan menantu perempuan sepertinya akan ada sepanjang masa....


Foto : Mertua, menantu dan ipar yang akur

Rabu, Mei 09, 2012

Cerita tentang Seorang Ibu dengan Dua Anak dan Sepedanya

Sudah beberapa bulan ini saya perhatikan bahwa setiap saya pulang dari kantor sekitar pukul setengah lima dan mengambil jalan pintas mengelilingi Bandara Polonia, saya melihat seorang ibu yang menggendong seorang anak kecil (bayi lebih tepatnya) sambil menggiring sepeda melintas di jalan itu. 
Di atas boncengan sepeda duduk seorang anak juga, yang selalu dalam posisi kepala terkulai di atas sadel sepeda. Sepertinya dia sedang tidur.
Mereka selalu berjalan searah dengan arah saya pulang.
Kadang saya melihat mereka sedang berhenti dipinggir jalan dibawah pohon teduh, mungkin sebentar istirahat. 
Pertama saya menyadari keberadaan mereka, hati saya bertanya :mengapa Ibu ini berjalan dengan sepedanya dan bukannya menaiki sepedanya itu. 
Tapi kemudian saya perhatikan bahwa pada pertemuan-pertemuan berikutnya tidak pernah sekalipun saya lihat si Ibu sedang menaiki sepedanya.
Sungguh mengherankan saya.
Lalu saya pikir, mungkin sulit baginya mendayung sepeda dengan seorang anak di gendongan dan seorang anak lainnya di boncengan yang (selalu) terkulai tidur.
Mungkin demi keselamatan anak-anaknya Si Ibu merasa lebih baik menggiring sepedanya daripada menaikinya.

Setelah pertanyaan saya itu terjawab oleh asumsi saya sendiri, ternyata muncul pertanyaan lain.
Mengapa saya selalu bertemu dengan mereka di waktu-waktu yang hampir sama setiap saatnya ? Dari mana kah Ibu ini ? Mengapa selalu bertiga dengan 2 anak yang masih kecil ? 
Pertanyaan itu pun kemudian saya jawab sendiri.
Mungkin Ibu ini adalah ibu bekerja, sama seperti saya. Bedanya ketika anak-anak saya masih kecil ada ibu saya (Oma dari anak-anak saya) yang menjaga mereka di rumah, ada juga pembantu yang membantu Ibu saya mengurus anak-anak ini. Sementara si Ibu ini tidak punya pembantu atau keluarga yang bisa diminta tolong menjaga anak-anaknya. sehingga ke mana pun dan di mana pun Ibu ini bekerja, anak-anak harus turut serta dibawa. Itu asumsi saya.
Ah...mirisnya hati ini melihat kondisi seperti itu.

Kemarin saya melintas di jalan yang sama bersama Tanti dan kami bertemu dengan mereka.
"Itu Dek, yang pernah mami ceritakan" sambil menunjuk mereka.
"Mungkin Ibu itu kerja dan anak-anaknya tidak ada yang menjaga, sehingga anak-anak harus ikut dibawa-bawa. "
"Makanya kamu mesti berterima kasih sama Oma. Waktu kalian kecil dan mami harus kerja, Oma lah yang menjaga kalian" sambung saya lagi.

Tanti terdiam..Mudah-mudahan dia mengerti maksud saya.

Selasa, Mei 08, 2012

Dont Judge a Book by It's Cover

Sering kita mendengar orang mengatakan "Don't judge a book by it's cover", jangan menilai sebuah buku dari sampul luarnya saja, begitu lah terjemahannya.
Nasehat itu juga kemudian digunakan untuk mengingatkan kita untuk tidak menilai seseorang dari tampilan luarnya saja, entah itu wajah nya, bentuk tubuhnya, warna kulit atau pakaiannya saja.
Kalau buku kita harus membaca nya dulu agar kita tahu bagus tidaknya buku itu.
Atau paling tidak membaca ringkasan tentang isi buku tersebut.
Sementara jika kita ingin menilai baik tidak nya seseorang, kita harus mengenal orang tersebut dan tidak sekedar menilai penampilan luar.

Bagaimana dengan email ? Kita juga sering menerima email-email dari alamat atau orang yang tidak di kenal.
Macam-macam isinya, ada yang menawarkan produk-produk kosmetik, jam tangan dan lain-lain yang masuk kategori aneh.
Tentu dari pengirimnya (yang tidak kita kenal) dan judulnya saja kita sudah tau bahwa ini adalah email-email yang tidak perlu kita buka.
Tapi bagaimana dengan email-email dari teman ?
Kadang memang karena rasa benci dan kesal (mungkin karena teman ini pernah menyakiti kita), kita sering menjadi apriori saat menerima email-email dari teman tersebut.
Tanpa membaca langsung membuangnya ke tong sampah, hanya karena kita benci dengan pengirimnya atau karena judulnya tidak menarik atau kita merasa tidak ada kepentingannya dengan kita.
Padahal mungkin ada pesan yang bagus di dalamnya, ada sesuatu yang berharga di dalamnya, mungkin doa yang tulus, atau sekedar bacaan yang berguna.

Dulu kakek saya sering menasehati kami, katanya "dari seorang penjahat pun kita bisa mendapatkan suatu pelajaran"
Bahkan ada pepatah yang mengatakan "condemn the crime but not the actor"
Hendaknya yang kita benci adalah perbuatannya bukan lah si pelaku.

Akhir-akhir ini beredar juga di Blackberry Messenger, tulisan mendiang Mantan Menteri Kesehatan RI, DR. Endang Rahayu Sedyaningsih  tentang ajakannya untuk berbaik sangka..
Sepertinya benar ungkapannya itu, betapa indahnya hidup kita jika kita selalu jauh dari sikap berburuk sangka.atau tidak mengambil sikap apriori.

Semoga.............






Senin, April 23, 2012

Cerita Epik Masa Kecil

Kemarin sore, HBO menayangkan kembali film "The Last of The Mohicans", film epic tentang pertempuran antara suku Indian Amerika dengan Perancis (1757) yang di release pada tahun 1992.
Dulu, semasa SD film-film tentang suku Indian Amrika yang berkulit merah ini banyak ditayangkan di televisi dan selalu menjadi tontonan favorit kami. Salah satu adalah film Daniel Boone yang bercerita tentang petualangan Kolonel Daniel Boone, seorang tokoh terkenal pada perang Revolusi Amerika dari Kentucky, Amerika.
Begitu juga cerita-cerita tentang Suku Indian seperti Jeronimo atau buku-buku klasik yang ditulis beberapa penulis Amerika terkenal seperti Harriet Beecher Stowe (Uncle Tom's Cabin) selalu menjadi bacaan yang menarik bagi kami.

Terpengaruh oleh cerita epik penduduk asli Amerika itu, kami anak-anak kompleks dulu sering bermain perang-perangan ala Indian.
Kalau sudah libur sekolah, permainan ini selalu menjadi permainan yang ditunggu-tunggu.
Sebagai anak perempuan satu-satu nya di rumah, serta bertetangga dengan keluarga yang memiliki 4 anak lelaki, membuat saya meenjadi satu-satu nya anak perempuan yang ikut dalam permainan itu.
Karena itu saya selalu menjadi "perempuan tawanan" yang harus diselamatkan.
Lucu ..kalau mengingat cara kami bermain.

Mempunyai ayah yang bekas pramuka juga menambah seru permainan kami.
Ayah kami sampai menjahit tenda yang lumayan besar untuk ukuran kami saat itu.
Tenda ini lah menjadi arena permainan kami
Kalau tidak sedang bermain indian-indianan, tenda itu pun sering kami pakai untuk kamping di halaman belakang rumah yang luas.

Kembali ke soal permainan indian-indian ini, biasanya kami menyediakan ranting kayu untuk dijadikan busur panah atau untuk api unggun. Untuk bulu ayam penghias kepala, biasa kami ambil dari kemoching (bulu ayam pembersih debu) atau dari bulu ayam hasil potongan ayam.
Permainan selalu dibagi dalam 2 kelompok, ada kelompok koboi (cowboy maksudnya) dan kelompok orang indian.
Saya selalu jadi perempuan yang diculik kaum Indian dan akan dibebaskan oleh kelompok koboi.
Pokoknya seru lah...
Belum lagi dengan suara-suara teriakan kaum Indian sambil mengitari api unggun, tak lupa dengan acara kirim kabar lewat asap.
Kalau sudah bermain indian-indian an kami bisa lupa waktu. Kembali ke rumah, saat maghrib dengan tubuh bau asap bercampur keringat.
Kenangan yang sungguh membuat kami semua tertawa jika menceritakannya kembali.
Dan ini lah yang saya kenang kemarin saat saya menonton film "The Last of The Mohicans" .

Minggu, Maret 04, 2012

Sekedar Cerita

Belakangan ini banyak orang dari berbagai kalangan mulai aktif terlibat dalam apa yang dikatakan pola hidup sehat.  Mungkin terlalu sempit jika saya melihatnya hanya berdasarkan pengamatan bahwa saat ini banyak sekali orang berseliweran di hari Minggu dengan sepeda. Mulai dari sepeda ontel yang antik hingga sepeda yang harganya jutaan. Tidak tahu beli sepeda mahal untuk gengsi atau untuk mendukuung keinginan hidup sehat tadi. 
Seorang warga di kompleks saya ini, beberapa kali terlihat berkeliling kompleks dengan sepeda mahalnya, lengkap dengan perlengkapan pelindung kepala dan lutut. Sekilas membuat iri.
Tapi tadi pagi saya lewat di depan rumahnya, weleh saya melihat pemandangan yang (menurut saya sih...) bertentangan dengan perilaku sehat : merokok.
Waduh....nggak banget rasanya ! Runtuh kekaguman saya dengan pola hidupnya yang selama ini saya lihat.
Sebelumnya pernah juga saya lihat pengunjung kolam renang yang terlihat sangat aktif di kolam, tapi begitu keluar dari kolam, langsung menghidupkan rokok dan ngebul.
Aduh sayangnya....tadi melakukan kegiatan yang menyehatkan jantung dan paru-paru sekarang sudah mengisinya dengan "sampah". 
Saya bisa mengerti bahwa memang tidak gampang untuk berhenti dari merokok atau berhenti dari kebiasan-kebiasan buruk yang bertentangan dengan sikap positif yang ingin kita miliki.
Kemarin juga saya lihat seorang ibu direktur yang selalu berteriak-teriak agar karyawannya memiliki pola hidup bersih dan tidak membuang sampah sembarangan..eh..saat berkendaraan seenaknya saya lihat dia membuang sampah kemasan minuman keluar dari jendela mobilnya.
Sedih saya melihatnya....
Tapi mungkin saya juga begitu ya...ingin hidup sehat tapi tidak menjaga pola makan. Ingin dipercayai tapi melakukan perbuatan yang merusak integritas sendiri.
Mudah-mudahan dengan melihat sekitar, saya jadi lebih bisa merefleksi diri dan akhirnya menerapkan sikap hidup yang lebih baik lagi. 
Semoga Tuhan memberkati usaha kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik setiap hari.

 

Rabu, Februari 29, 2012

Swim Buddies




Sekian lama bertemu di kolam renang, dengan problem yang mirip-mirip (ada karena HNP, ada karena Osteoarthritis) membuat kami kompak dan akrab. Ada 5 perempuan dengan rentang usia antara 45 sampai 80 tahun yang selalu rajin meluangkan waktunya di pagi hari untuk berenang secara aktif minimal 2 sampai 3 kali per minggu. Semua saling mendorong untuk tidak sekedar datang dan menggosip di pinggir kolam. Jadi waktu reses hanya saat masing-masing sudah menyelesaikan putarannya minimal 5 kali di kolam berbentuk lagoon yang berukuran panjang kira-kira 20 meter itu. Dari antara mereka hanya saya lah yang paling cepat datang dan kadang lebih duluan pulang. Tapi begitu pun kami selalu kompak dan merindukan. Beberapa waktu lalu ada yang menikahkan anaknya dan di sana lah kesempatan kami untuk bertemu dalam suasana yang berbeda.

Hanya saja sudah 2 hari ini kami tidak bertemu karena kolam renang kotor. Kecewa sekali rasanya..

Tapi tadi pagi ada sesuatu yang menarik terjadi.
Seorang bapak dan istrinya terlihat juga kecewa seperti saya karena tidak bisa berenang. Saya belum pernah melihat mereka di kolam.
Mungkin karena sama-sama kecewa kami kemudian terlibat percakapan. Kemudian saya ketahui kalau si bapak harus renang karena problem punggungnya, lagi-lagi penyakit tiga huruf itu HNP. Lokasinya sama dengan lokasi HNP saya. Lalu dia cerita kalau dia sering mencari info tentang penyakitnya di internet dan ada blog yang mengulas tentang itu. Penulisnya bernama Maria, yang menceritakan tentang pengalamannya sembuh karena renang...bla...bla...bla..
Karena sekarang semua bisa menulis blog jadi rasanya tidak mungkin yang dimaksudnya blog saya. Tapi lama-lama deskripsinya koq makin mendekati blog saya.
Saya kaget juga, tidak menyangka. Lalu saya tersenyum, sambil mengatakan kalau saya lah itu.
Akhirnya obrolan diantara kami bertiga makin melebar.
Saya sendiri sih senang sekali kalau ternyata blog saya bisa jadi inspirasi buat sesama penderita HNP, untuk tidak menyerah.
Tetap semangat buat semua...
Sampai ketemu di kolam renang...!

Jumat, Januari 06, 2012

Taking Care of Your Back

Ternyata tulisan saya tentang "Renang dan HNP" cukup banyak mendapat respons. Secara epidemiologis, penderita HNP memang cukup banyak yakni 3 dari 5 orang di dunia menderita nyeri tulang belakang dengan penyebab macam-macam dan salah satunya HNP.
Rata-rata yang berkunjung ke blog saya, bertanya tentang bagaimana saya bisa melewati masa akut dan kembali beraktivitas tanpa harus operasi.
Tentang renang sudah pernah saya ulas, meski tidak cukup detail. Lain kali saya akan coba mengulas agar para HNPers bisa tahu gaya renang apa yang paling baik untuk penderita HNP.
Kali ini saya ingin share gerakan-gerakan yang dianjurkan untuk penderita HNP serta cara-cara menjaga tulang belakang kita. Mungkin bisa berguna untuk kita semua.
SELAMAT MENCOBA !