Jumat, April 03, 2009

Rocky

Beberapa bulan yang lalu, anjing kami Rocky sakit. Meski sudah dibawa berobat ke dokter hewan kondisinya bukan makin baik malah makin jelek, tidak mau makan, pandangan matanya juga sayu.
Di suatu pagi, saya bangun dan entah kenapa saya masuk ke gudang di mana Rocky berada. Di gudang saya mendapati Rocky tak bergerak, badannya dingin dan kaku.

Ah....saya bisa bayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya di rumah kami.


Saya segera membangunkan Tita dan Tanti, serta Ibu saya. Mendengar kabar itu mereka semua lari ke gudang. Dan begitu melihat Rocky sudah kaku dan dingin, mereka pun menangis sejadinya. Tanti yang selama ini takut berdekat-dekat dengan Rocky, semakin tidak berani mendekati hanya mengintip dari jendela gudang. Tapi dia menangis sambil meletakkan kepalanya di ambang jendela...


Sedih memang melihat pemandangan pagi itu...Trenyuh hati saya mendengar tangisan mereka. Tapi entah kenapa saya tidak menangis. Saya memang bisa dikatakan tidak begitu peduli dengan kehadiran Rocky. Rocky sering membuat saya kesal. Dia sering menyelinap masuk ke dalam rumah bila sekejab saja lalai menutup pintu, sementara usaha untuk mengeluarkan dia kembali membutuhkan waktu yang tidak sebentar.


Beberapa saat saya memang membiarkan anak-anak menangis, melepaskan kesedihan mereka. Pada waktunya saya rasa cukup, saya ajak anak-anak untuk segera bersiap-siap ke sekolah. Tapi mereka protes.


"Tita gak mau sekolah Ma..aku sedih...Rocky mati.." kata Tita sambil menangis.
"Iya Ma...aku juga gak mau sekolah, aku mau lihat Rocky dikubur.." Tanti ikut bersuara.
Mengetahu anak-anak tidak mau sekolah hanya gara-gara Rocky membuat saya jadi kesal dan suara saya pun menjadi sedikit meninggi.
"Jangan begitu dong, masa gara-gara Rocky mati kalian jadi gak mau sekolah..sekolah kan penting.."
"Iya..tapi Rocky juga penting..." sahut Tita.

"Ok, tapi itu bukan alasan untuk tidak sekolah.." saya masih mencoba memberi penjelasan.
" Mami kejam...kami sedih Rocky mati, tapi lihatlah mami sedikit pun tidak merasa sedih..nggak ada perasaan Mami.." sahut Tita sambil sesunggukan.
Lama-lama lawan saya pun bertambah dari satu menjadi dua, lalu menjadi tiga dengan masuknya ibu saya neneknya anak-anak saya itu ke dalam perdebatan ini.


Sudahlah..akhirnya saya mengalah. Pagi itu saya berangkat sendiri tanpa anak-anak.

Tapi dalam perjalanan ke kantor saya merenung..saya teringat Bondo anjing saya waktu saya masih sekolah. Suatu hari Bondo saya temukan mati di halaman dengan mulut berbuih. Saat itu saya pun menangis meraung-meraung seperti tadi Tita dan Tanti.

Uh...kenapa tadi saya jadi begitu keras ya...Saya menyesal tidak bisa mengerti kesedihan mereka. Saya berjanji siang sepulang kerja nanti saya akan minta maaf pada mereka.

Dan itu lah yang memang saya lakukan..

0 komentar: