Ralita dan Asima dengan seragam rumah sakit Di hari pertama kunjungan kami ke klinik rawat jalan di Shriners Children Burns Hospital, Ralita dan Asima menjalani pemeriksaan lengkap dan berkas-berkas riawayat kesehatan mereka, termasuk riwayat immunisasi diperiksa dengan seksama. Dari hasil pemeriksaan fisik terhadap Ralita Dr. Mc Caulay, dokter yang akan menangani Ralita menjadwal operasi Ralita di tanggal 15 Maret 2007, sementara jadwal untuk Asima belum dapat ditentukan.
Kami semua sangat kecewa dengan jadwal tersebut terutama saya dan Linley. Karena artinya 2 bulan waktu kami akan terbuang percuma karena tanggal 5 Maret saya sudah harus kembali ke Indonesia, artinya saya tidak bisa ikut mendampingi Ralita menghadapi operasinya, padahal itu tujuan utama keikutsertaan saya. Tetapi pihak rumah sakit berjanji jika ada operasi yang batal maka jadwal kami akan dimajukan.
Ralita sendiri, di satu sisi senang dengan pengunduran jadwal ini, karena seperti pengakuannya masih ada ketakutan di hatinya. Tetapi di lain sisi dia juga khawatir bagaimana dia bisa menghadapi operasi jika saya sudah pulang. Saya membesarkan hatinya mengatakan bahwa kita berharap saja akan ada penjadwalan ulang dan mudah-mudahan saat itu saya masih ada dan dia juga sudah siap mental.
Selama menunggu kami banyak menghabiskan waktu berkunjung ke teman-teman Linley yang ikut menyumbangkan dana bagi keperluan keberangkatan kami dan keperluan-keperluan lain terkait akomodasi kami, selain kunjungan ke dokter mata dan ke dokter gigi untuk memeriksakan mata dan gigi mereka. Linley memang sangat memperhatikan hal-hal kecil seperti itu. Dokter mata dan dokter gigi yang kami kunjungi semua kami peroleh dari rekomendasi teman-teman Linley dan mereka sama sekali tidak memungut bayaran sepeser pun.
Ya, Ralita dan Asima sungguh mendapat berkah berlimbah di negeri orang.
Ya, Ralita dan Asima sungguh mendapat berkah berlimbah di negeri orang.
Bayangkan saja, untuk akomodasi, kami tinggal di apartemen yang cukup bagus dengan 1 kamar tidur, dapur, ruang duduk dan ruang makan. Ada satu sofa di ruang duduk yang kalau malam bisa kami pakai untuk tempat tidur dan disitulah saya dan Linley tidur. Apartemen itu dibayar oleh biarawati dari kongregasi RSCJ (Religious of the Sacred Heart of Jesus), yang juga memiliki komunitas di Jakarta dan Linley berteman baik dengan mereka.
Hebatnya lagi, saat kami tiba di apartemen, masing-masing kami mendapat welcome gift berupa satu set kebutuhan mandi dari teman-teman Linley yang ada di Houston selain 2 koper berisi baju-baju untuk Ralita dan Asima. Di lemari es dan di dalam lemari penyimpanan makanan sudah ada makanan ringan dan bahan makanan kering untuk keperluan kami. Wah, benar-benar penyambutan yang sudah diatur dengan baik. Saya benar-benar tersentuh.
Kami juga diundang ke sana kemari karena banyak sekali yang ingin berkenalan dengan Ralita dan Asima. Hari ini kami ke Houston, hari lain kami ke Pearland, Seabrook atau ke kota lainnya antara Houston dan Galveston.
Sekali waktu mereka diundang oleh anak-anak sekolah putri Duchesne Academy of the Sacred Heart yang dimiliki oleh biarawati RSCJ. Sekolah ini terkenal mahal dan untuk kalangan elite di Houston. Saat itu saya tidak ikut karena hari itu saya juga diberi kesempatan untuk refreshing, Linley sudah mengatur agar temannya membawa saya keliling melihat Galveston Area.
Malamnya di apartemen kami bertukar cerita tentang pengalaman kami masing-masing. Mereka bercerita kalau mereka sangat menikmati pertemuan dengan anak-anak sebaya dari sekolah Duchesne. Mereka menari dan menyanyi bahkan Ralita dan Asima mengajar anak-anak bule itu menari tortor. Lalu mereka memperlihatkan 2 kotak yang penuh berisi kartu bergambar dan scrap paper yang berisi kata-kata penguatan agar Ralita dan Asima siap menghadapi operasi, dan macam-macam hadiah kecil lainnya. Sungguh mengesankan perhatian anak-anak ini terhadap Ralita dan Asima.
Hal lain yang juga menarik perhatian saya adalah saat saya berkesempatan mengunjungi gereja di beberapa tempat di Houston, baik gereja Katolik maupun gereja lainnya, gereja selalu penuh dengan jemaat. Mulai dari jemaat senior, keluarga dgn anak-anak mereka , maupun anak-anak muda. Saya selama ini menduga bahwa gereja di Amerika seperti umumnya gereja-gereja di di negara Barat terutama Belanda, telah kehilangan jemaat.
Bahkan kegiatan Bible Study cukup diminati. Kami pernah mengikuti kegiatan Bible Study di rumah keluarga yang tinggal di suatu kompleks perumahan yang elite di Conroe. Keluarga ini keluarga berada, memiliki summer camp bernuansa Kristen di Arkansas. Di acara tersebut saya mengungkapkan kesan yang saya peroleh dari kunjungan saya ke Amerika khususnya ke Houston dan sekitarnya, bagaimana saya terharu dengan keramahan dan keterbukaan orang-orang yang saya temui. Sungguh perjalanan ini membuka wawasan saya tentang warga Amerika.
Belakangan baru saya ketahui bahwa negara bagian Texas termasuk kelompok negara bagian yang disebut sebagai Bible Belt States. Disebut Bible Belt karena negara-negara bagian ini mayoritas penduduknya adalah penganut Kristen Protestan yang konservatif. Negara bagian yang termasuk dalam Bible Belt ada 2 bagian yakni bagian Timur mulai dari Florida, Alabama, Tennessee, Kentucky, Georgia, Carolina Utara dan Selatan dan Virginia, dan bagian lebih ke barat, yakni dari Texas, Arkansas, Louisiana, Oklahoma, Missouri, Kansas, and Mississippi.
Apakah keramahan ini terkait dengan sebutan Texas sebagai negara bagian yang Bible Belt atau tidak saya tidak bisa menyimpulkan..Hanya satu yang pasti yakni bahwa kasih yang tulus ada di hati mereka yang dengan tangan terbuka menyambut kedatangan kami dan membuat segala rencana untuk membantu Ralita dan Asima terwujud.
Saya dengan bendera negara bagian Texas
"The Lone Star"



0 komentar:
Poskan Komentar