Minggu, Maret 22, 2009

Shriners Children Burns Hospital

Shriners Children Burns Hospital (SCBH) adalah salah satu rumah sakit yang dimiliki oleh suatu kelompok organisasi keagamaan tertua yang menamakan diri Masonry yang berasal dari Inggris pada abad pertengahan. SCBH mengkhususkan diri dalam pelayanan bagi anak2 yang menderita luka bakar bersama 4 rumah sakit lainnya. Selain SCBH, mereka juga memiliki rumah sakit lain khusus untuk orthopedi (19 rumah sakit) , bibir sumbir (2 rumah sakit) dan trauma tulang belakang (3 rumah sakit) yang tersebar di banyak negara bagian di Amerika.
SCBH Galveston berada di Galveston, sebuah pulau kecil di Teluk Meksiko yang termasuk negara bagian Texas. Houston dan Galveston dihubungkan oleh jembatan highway yang dapat ditempuh selama lebih kurang 45 menit.
Rumah sakit ini terdiri dari 7 lantai, dan memiliki sekitar 50 tempat tidur saja. Tetapi mereka memiliki fasilitas rawat jalan/klinik, rehabilitasi medik, bantuan psiokolog, kamar bedah dan ruang intensive yang cukup lengkap.
Mereka bekerja sama dengan University of Texas Medical Branch (UTMB) dalam penyediaan tenaga dokter. Dokter-dokter yang bekerja di sini adalah dokter senior yang tidak mendapat bayaran dibantu oleh residen bedah dari UTMB.

Ralita dan Asima benar-benar beruntung bisa diterima untuk ditangani di rumah sakit ini, karena sebenarnya mereka hanya menerima pasien dari Amerika Utara dan Meksiko saja. saya yakin kemampuan Linley untuk bernegosiasi telah membuat mereka diterima di sini.

Hari pertama, kami diminta untuk datang ke klinik rawat jalan untuk bertemu dokter yang akan memeriksa dan kemudian mengatur jadwal operasi bagi Ralita dan Asima.
Saat menunggu di klinik, saya melihat banyak sekali ternyata anak-anak terutama anak-anak dari Meksiko yang menderita luka bakar yang kondisinya jauh lebih parah dari kondisi Ralita dan Asima. Saya sungguh tidak mengerti bagaimana bisa ada begitu banyak korban luka bakar.
Bukan sedikit saya lihat anak-anak yang mengalami bekas luka bakar diwajahnya. bahkan ada bayi kecil yang seluruh tubuh dibalut perban sehingga kelihatan seperti mummy. Hampir tidak bisa dipercaya ada pemandangan seperti itu. Saya tidak bisa membayangkan apa yang terjadi pada anak-anak ini, apakah mereka mengalami kekerasan rumah tangga atau murni kecelakaan.
Dari data statistik yang terpampang di suatu papan informasi di SCBH, saya ketahui bahwa seperti pada umumnya di negara-negara sedang berkembang, keluarga tidak mampu di Meksiko memiliki dapur yang terbuka dengan tungku yang terbuka pula. Sehingga kecelakaan yang terjadi di dapur seperti anak jatuh ke dalam tungku cukup tinggi insidennya.
Berbeda dengan statistik di Meksiko, kejadian luka bakar di Amerika Utara umumnya terjadi di kamar mandi. Yakni saat memandikan anak, orang tua langsung mencemplungkan anaknya ke bathtub tanpa mengetes suhu air terlebih dahulu, atau luka bakar akibat tersentuh kompor elektrik.

Melihat anak-anak dengan luka bakar yang luas di SCBH, sungguh membuat hati saya menjadi galau. Saya teringat anak-anak saya sendiri di rumah, yang beribu-ribu kilometer jauhnya. Semoga mereka selalu dilindungi Tuhan..dihindari dari bencana di mana pun mereka berada..

Awal-awalnya Ralita dan Asima sedikit ketakutan dengan apa yang mereka temui di sana. Saya lalu mengingatkan mereka agar setidaknya mensyukuri karena ternyata masih ada yang lebih buruk keadaan lukanya dari mereka. Saya ingatkan mereka untuk tidak membuang muka jika melihat anak-anak dengan wajah yang hampir tidak dapat kita kenali sebagai anak laki-laki atau anak perempuan.
Anak-anak ini umumnya agak pemalu mungkin akibat keadaan mereka. Banyak dari anak-anak ini yang tidak berani menatap mata kita tetapi kelihatan kalau sesungguhnya mereka ingin disapa dan didekati. Mereka sangat senang jka kita menyapa mereka. Meski mereka tidak bisa berbahasa Inggris dan saya hanya bisa menyapa dengan "Ola " (Hallo), dan "Gracias" (Terima Kasih), "Buenos diaz " (Selamat pagi) tapi saya puas bisa melihat mereka tersenyum dengan tatapan malu-malu..
Ah…api telah merenggut keceriaan masa kanak-kanak mereka….

Untung ada rumah sakit seperti Shriners Children Burns Hospital yang dapat memberikan pelayanan yang berkualitas tanpa memungut bayaran. Jangan berpikir kalau rumah sakit yang gratis seperti itu lalu fasilitasnya jelek. Bahkan keluarga yang ikut mondok di rumah sakit diberi kupon untuk makan 3 kali sehari dan diberi bahan-bahan kebutuhan untuk kebersihan seperti sabun, shampo, detergen untuk digunakan sehari-hari selama menjaga pasien.
Sayang tahun 2008 yang lalu, Shriners Children Burns Hospital yang ada di Galveston ditutup karena mengalami kerusakan parah setelah daerah Galveston dihantam badai Ike.

Semoga di masa-masa mendatang, Indonesia juga memiliki rumah sakit seperti ini, rumah sakit yang benar-benar non profit untuk mereka-mereka yang tidak mampu.
Di Departemen Rehabilitasi Medis Asima mendapat sepatu baru

0 komentar: