Asima PakpahanRalita Sitio
Perkenalan saya dengan Linley Simmer York di tahun 2005 telah membawa saya berkenalan dengan 2 gadis belia, Ralita Sitio dan Asima Pakpahan. Ralita Sitio berasal dari Desa Simpang Nagapane di Simalungun, sementara Asima berasal dari Laguboti Balige.Mereka datang ke praktek saya di suatu sore di pertengahan tahun 2006 bersama Linley.

Perkenalan saya dengan Linley Simmer York di tahun 2005 telah membawa saya berkenalan dengan 2 gadis belia, Ralita Sitio dan Asima Pakpahan. Ralita Sitio berasal dari Desa Simpang Nagapane di Simalungun, sementara Asima berasal dari Laguboti Balige.Mereka datang ke praktek saya di suatu sore di pertengahan tahun 2006 bersama Linley.
Linley adalah seorang wanita Amerika, seorang perawat yang bersuamikan seorang pengacara yang bekerja di Exxon Mobile Jakarta. Linley dan teman-teman expatriat di Jakarta memiliki kelompok yang mereka sebut NLLB (No Lunch Lunch Brunch). Ssetiap bulan bertemu dan mengumpulkan uang untuk pemberdayaan keluarga Indonesia maupun untuk membantu biaya pengobatan orang yang tidak mampu.
Kali ini mereka ingin membantu Ralita dan Asima.
Sebelumnya saya telah mendengar dari Linley tentang keadaan mereka, yakni mereka menderita kontraktur akibat luka bakar yang mereka alami saat mereka masih bayi.
Jika melihat mereka, terutama Ralita, kita tidak akan menyangka kalau dia menderita suatu kelainan. Wajahnya manis, senyum selalu tersungging di bibirnya. Begitu juga Asima, meski terkesan lebih pendiam, mungkin karena usianya yang masih 11 tahun.
Asima menderita kontraktur atau jaringan parut di kedua kaki mulai dari tungkai lutut. Kaki kirinya kelihatan seperti diamputasi, tetapi kalau kita perhatikan benar, maka akan terlihat bentuk telapak kaki di daerah tulang keringnya yang menghadap ke depan. Ya, jaringan parut akibat luka bakar telah menarik punggung kakinya hingga kakinya melekat ke daerah tulang keringnya. Sementara telapak kaki kanannya terputar ke arah dalam, sehingga dia berjalan dengan sisi luar kakinya. Sampai usia 11 tahun dia tidak pernah menggunakan sepatu, tidak heran kakinya sering luka karena tergesek aspal atau tanah keras di kampungnya.
Ralita menderita kontraktur pada daerah dada, sebagian leher, perut hingga daerah ketiak kanannya. Mengakibatkan perlengketan pada ketiaknya sampai daerah siku. Sehingga dia tidak bisa mengangkat lengannya. Sementara jaringan parut pada perutnya mengakibatkan dia cepat merasa kenyang. Jaringan parut menyebabkan jaringan otot dan kulit tidak memiliki kelenturan lagi.
Sore itu di praktek, saya memerika dan membuat laporan medis tentang kondisi tubuh mereka berdua dan melampirkan laporan pemeriksaan darah dan radiologis mereka.
Linley akan mengusahakan agar mereka berdua bisa mendapatkan bantuan operasi rekonstruksi di Amerika. Ada beberapa pilihan rumah sakit di Amerika yang bisa melakukannya tetapi tentu memakan biaya besar. Tetapi ada satu rumah sakit yang diketahui dapat melakukan operasi rekonstruksi tanpa memungut biaya, yakni di Shriners Childrens Burned Hospital di Galveston Island Texas. Sayangnya mereka hanya menerima pasien dari Amerika dan Meksiko. Tapi Linley akan berusaha keras agar Ralita dan Asima dapat diterima di sana.
Selesai memeriksa, Linley bertanya apa saya bersedia mendampingi anak-anak ini jika aplikasi mereka diterima.
"Sure, why not..I like them if I can do something to help them I will..beside I never been to America, maybe this is my chance to see an American hospital.." begitu jawab saya sore itu, walau dalam hati saya tidak yakin Linley bersungguh-sungguh tentang itu.
Bulan Agustus Linley menghubungi saya, mengatakan kalau aplikasinya diterima dan dia ternyata bersungguh-sungguh tentang tawarannya kepada saya. Kami diharapkan tiba di Amerika sekitar minggu ke tiga bulan Januari 2007.
Apa yang bisa saya katakan..saya tidak pernah bermimpi bisa pergi ke Amerika. Bagi saya Amerika terlalu jauh, terlalu besar dan terlalu modern. Saya tidak suka. Saya lebih suka negara-negara Eropa ; kecil, tidak terlalu modern dan tidak begitu jauh. Tetapi ada pepatah Belanda yang saya ingat.."De druiven zijn te zuur"(Anggur itu asam). Yang bisa diartikan bahwa karena ketidakmampuan kita menggapai suatu mimpi lalu kita menyalahkan apa yang kita impikan itu.
Mungkin saya seperti itu, karena tahu saya tidak mungkin bisa ke Amerika maka saya katakan saya tidak suka Amerika karena bla..bla...bla...
Kalau akhirnya ada tawaran ke Amerika...sure I take it...
Selain tentu saja saya ingin berbuat sesuatu buat Ralita dan Asima. Pertemuan pertama saya di klinik sore itu entah kenapa menimbulkan perasaan ingin melindungi mereka.
Tapi kemudian saya khawatir, bagaimana keluarga saya, anak-anak saya menanggapi rencana ini..Saya diharapkan meninggalkan anak-anak selama 2 atau 3 bulan untuk menemani anak-anak yang tidak ada hubungan kekeluargaan sama sekali dengan saya..?
Saya berusaha meyakinkan anak-anak saya bahwa ini kesempatan untuk melakukan sesuatu bagi orang lain yang benar-benar membutuhkan kita.
Syukurlah, bahwa ternyata semua mendukung saya, walaupun mereka tahu ini tugas kemanusiaan dan saya tidak mendapat bayaran apa-apa, hanya tiket dan akomodasi saya selama di sana akan dibiayai dari dana yang diperoleh dari para donatur melalui NLLB.
Bulan Nopember, saya bertemu kembali dengan Ralita dan Asima. Mereka akan berangkat duluan ke Jakarta untuk persiapan mereka dengan tata cara dan pola hidup di Amerika dan saya akan menyusul kemudian.
Malam sebelum mereka berangkat ke Jakarta, kami bertemu dan makan malam bersama, Ralita dan Asima dengan orang tua mereka, saya dengan Tita dan Tanti, beserta Linley dan Paula Graham temannya yang sama-sama membangun NLLB.
Tujuan pertemuan ini agar kami lebih saling mengenal. Agar Ralita, Asima dan orang tua mereka tahu bahwa saya lah wali anak-anak mereka selama di Amerika dan juga agar anak-anak saya mengenal Ralita dan Asima "saudara" mereka yang harus saya bawa berobat ke Amerika.
Saya salut dengan orang tua Ralita dan Asima yang ikhlas melepaskan anak mereka berangkat ke negeri yang jauh dengan orang yang baru mereka kenal selama lebih kurang 6 bulan saja.
Saya tidak tahu apa saya bisa seperti mereka.
Malam itu menjadi malam yang mengharukan, yang tidak bisa saya lupakan. Kami merasa sebagai satu keluarga besar..
Akhirnya saat yang dinantikan tiba. Kami bertemu di Jakarta pada tanggal 19 Januari 2007 dan dijadwalkan berangkat ke Houston pada tanggal 23 Januari 2007 melalui Singapura, Tokyo, Detroit dan akhirnya Houston.
Linley akan ikut bersama kami selama 2 minggu pertama dan selanjutnya saya lah yang akan bertanggungjawab penuh atas anak-anak ini.
Sore tanggal 23 Januari 2007, kami berangkat dari Sukarno Hatta, diantar beberapa ibu-ibu expat dari NLLB..Di bandara saya sempatkan menghubungi anak-anak di Medan.
Sedih mendengar suara mereka.
Terima kasih Tita, terima kasih Tanti..sudah mengizinkan mami berangkat..I am gonna miss you all..
Good bye Indonesia....here I come America..
Dari kiri ke kanan : Asima, saya, Nancy Ainslie (teman Linley), Ralita dan Linley, setelah menginap 1 malam di rumah Nancy di Houston, bersiap-siap berangkat ke Galveston


0 komentar:
Poskan Komentar