
Sudah setahun ini saya menjadi pehobi tanaman. Sebelum-sebelumnya pernah juga saya mencoba mengumpulkan dan menanam beberapa tanaman. Tapi entah kenapa tidak pernah berhasil baik, semua mati mengenaskan..kecuali tanaman tanduk rusa yang sudah begitu subur, dengan sulur-sulurnya yang rimbun dan panjang menyentuh tanah.
Tapi entah kenapa akhirnya itu pun menemui ajalnya.
Saya sedih sekali, tak habis pikir saya kenapa dia yang selama ini begitu suburnya bisa mati. Tapi mungkin dia hidup karena sebagai tanaman epifit dia bisa mendapat makanan dari pohoh tempatnya menempel, bukan karena ketelatenan saya merawatnya.
Tukang kebun yang datang sebulan sekali ke rumah pernah mengomentari ketidaktelatenan saya dalam merawat tanaman itu kepada Tita. "Mami mu itu ya..panas-panas tahi ayam aja..beli tanaman tapi habis semua mati tak terurus.." begitu kata nya menurut Tita. Sedih juga saya dipermalukan begitu..hehe.
Akhirnya saya berpendapat, saya ini "bertangan panas" tidak ada tanaman yang bisa hidup ditangan saya. Dengan stigma seperti itu saya pun melupakan keinginan saya menjadi pehobi tanaman. Tapi saya selalu teringat dengan rimbunnya pakis tanduk rusa dan selalu ada penyesalan kenapa dia mati.
Lama sesudah itu, saya koq tertarik dengan suatu jenis tanaman berdaun yang ditanam di taman-taman dipinggir jalan di kota Medan. Daunnya berwarna hijau tua, dengan bentuk menjari seperti daun pepaya. Kesannya sangat rimbun dan menyejukkan mata.
Semakin sering saya melihat tanaman itu semakin tertarik hati ini untuk memilikinya. Hingga suatu hari pulang kerja saya pergi ke daerah Glugur sentra penjualan tanaman hias di kota Medan ku ini. Karena saya tidak tahu nama pohon ya saya sebut saja ciri-ciri fisiknya "daunnya menjari seperti daun pepaya Bang, yang banyak di pinggir-pinggir jalan itu..". Si penjual kemudian menunjukkan kepada saya tanaman sesuai ciri fisik yang saya maksud..pas meski masih kecil..
"Kalau sudah dewasa daunnya bisa sebesar apa ini Bang..?" tanya saya kepada si penjual.
"Ya, besarlah segini adalah.." jawabnya sambil merentangkan tangannya sejarak 50 cm..
" Ah..pas lah itu.." batin saya.
"Ya, sudah aku ambil lah itu Bang.."
Tapi begitu lah perempuan ini ya, kalau sudah belanja tidak bisa hanya beli satu. Saya kemudian tertarik dengan suatu jenis tanaman yang daunnya juga menjari tapi lebih kecil dan pinggirnya tidak bergelombang. Menurut si penjual namanya "Xanadu"
Koq Xanadu ? Itu kan nama lagu yang dinyanyikan Olivia Newton John ? Hehe...what ever Xanadu diangkat ke mobil..
Sesudah Xanadu...eh eh terlihat saya pula tanduk rusa menggantung di pohon. Teringat saya pada tanduk rusa saya yang pernah rimbun dan menjulur hingga 2 meter, saya pun membelinya padahal harganya tidak bisa dibilang murah.
Sore itu, puas hati saya sudah membeli "si daun pepaya", Xanadu dan Tanduk Rusa.
Malamnya saya browsing internet mencari cara merawat tanduk rusa (staghorn fern).
Dengan hasil penelusuran itu saya lalu mencoba menggantungnya di pohon mangga dibelakang rumah. Stelah sebelumnya saya menancapkan paku di pohon mangga tersebut. Beberapa hari kemudian, saya perhatikan koq daun pohon mangga di sisi saya menancapkan paku tersebut menguning. Lalu saya perhatikan rumput di bawah tanduk rusa saya, koq seperti ada getah yang menetes, ternyata paku yang saya tancapkan di pohon mangga membuat getah keluar dan menetes ke tanah.
Aduh...saya merasa bersalah sekali, apalagi setelah saya melihat daun-daun mangga mulai menguning. Cepat-cepat saya pindahkan tanduk rusa ke pohon mangga yang lain. Kali ini tidak saya gantung dengan paku tapi saya lilitkan tali pancing agar tanduk rusa itu menempel ke pohon.
Tapi lama-lama koq daunnya menguning begitu juga dengan pohon mangga tempat dia bergantung sebelumnya.
Beberapa minggu kemudian, baru saya ketahui bahwa pohon mangga tersebut di racun oleh Yoyon dengan cara memasukkan racun ke batang melalui lubang yang dia buat. Mami sangat marah, begitu juga saya. Saya marah karen menduga tanduk rusa saya tercemar racun yang sudah sempat ada di pohon mangga itu.
Habis lah nasib tanduk rusa...ah..ah...sedihnya...hilang impian saya untuk melihatnya tumbuh rimbun seperti pendahulunya.
Bagaimana dengan si Xanadu dan "Si Daun Pepaya" itu..?
Oh...mereka bernasib lebih baik. Dua pohon "daun pepaya", satu saya tanam di pot besar, satu saya tanam di halaman depan. Xanadu saya tanam di pot yang sudah sempat terlantar bekas tanaman yang lama.
Kali ini saya rajin menyiram dan menyapanya setiap pagi dan sore.
Saya melonjak girang saat muncul daun baru, yang berarti dia "betah".
Anak-anak sampai terheran-heran,kenapa mama nya kegirangan hanya karena ada muncul daun baru.
"Uuhh...mami punya "anak" yang lain sekarang ya yang lebih mami perhatikan..?" kata Tanti
"Ya, nggak begitu lah Tanti.. Mami kan tetap memberi lebih untuk kalian.."
Karena penasaran dengan nama tanaman "daun pepaya" ini saya pun mencoba mencarinya di buku-buku tentang tanaman hias.
Akhirnya tahu lah saya kalau "si daun pepaya" ini adalah salah satu jenis tanaman Philodendron (P. pinnatifidum). Ternyata Xanadu juga termasuk Philodendron.
Sejak itu saya betul-betul kecanduan dengan Philodendron.Sedikit demi sedikit saya membeli tanaman dari jenis Philodendron.Saat itu sedang booming Anthurium yang ternyata sepupu dengan Philodendron, tapi saya sama sekali tidak tertarik dengan Anthurium. Selain karena harganya mahal tapi buat saya bentuk daun Philodendron lebih menarik dari pada Anthurium.
Buku tentang Philodendron dan bagaimana menanam dan merawat pun mulai saya beli.
Dan saya mulai menanam Philodendron dengan media sesuai yang dianjurkan oleh buku-buku yang saya beli.
Saya tidak pernah membeli tanaman yang sudah dewasa. Yang saya beli umumnya tanaman yang masih berdaun 3 atau 4. Lebih senang dan nikmat melihat pertambahan daun dari hari ke hari karena perawatan kita.
Kesenangan saya untuk merawat tanaman sempat tertantang saat saya harus terkapar karena sakit akibat penjepitan syaraf tulang belakang akibat saya tidak memperhatikan posisi saya saat berjongkok untuk mengerjakan tanaman. Padahal saya sudah pernah mendapat sakit yang sama 3 tahun yang lalu.
Tetapi menurut dokter rehabilitasi medik, saya perlu mempertahankan hobby agar saya terhindar dari stress akibat sakit ini, tetapi saya harus memperhatikan posisi saat melakukan hobby tersebut.
Untunglah selama saya sakit semua tanaman saya sudah saya repotting sehingga saya tinggal merawat agar tumbuh sumbur.Tapi memang benar selama saya sakit, melihat tanaman membuat saya lebih relaks.
Desember tahun 2007, seyogyanya kami semua (saya, mami, anak-anak serta Yoyon dan Erny) akan liburan ke Yogya. Bahkan Alfons juga akan datang dari Surabaya ke Yogya untuk kemudian sama-sama ke Bali. Semua sudah disiapkan, tapi karena saya sakit, mami dan saya batal berangkat. Anak-anak tetap berangkat bersama Yoyon dan Erny. Padahal saya sudah bercita-cita akan ke Yogya, ke Kaliurang melihat nursery milik seorang penulis yang bukunya menjadi panduan saya dalam menanam Philodendron.
Akhirnya sebagai oleh-oleh saya dibelikan Philodendron melanoni dari Kaliurang.
Thank you girls..
Ceritanya P.melanoni ini mereka bawa-bawa sampai ke Bali dan anak-anak sampai ditugaskan Oom Alfons untuk menyiram P. melanoni ini setiap hari agar tidak mati saat sampai di Medan. Oalah...
Begitulah...sampai saat ini saya masih terus sibuk dengan Philodendron dan lainnya. Pernah saya pandai-pandaian sangking ingin cepat memperbanyak Philo, saya potong pucuk Philo saya yang sudah tumbuh baik tapi ternyata belum cukup dewasa untuk dibiakkan. Akhirnya dua-dua, si batang bawah dan si pucuk mati...menyesal...tapi kalau tidak begitu tidak akan pintar. Ya..sudah lah..
Tapi itu tidak membuat saya patah semangat. Tanaman lain masih tetap subur hingga kini.
Kelihatannya stigma "tangan panas" sudah bisa saya patahkan..


0 komentar:
Poskan Komentar