Minggu, April 05, 2009

Hewan-hewan Dari Masa Lalu

Bicara soal hewan piaraan, saya lalu teringat pada masa kanak-kanak kami di Kampung Baru. Banyak hewan-hewan yang ikut terlibat dan menemani keseharian kami dulu di Kampung Baru. Halaman rumah yang luas dan asri membuat hal tersebut memungkinkan.
Kami pernah memelihara burung merpati, kelinci, marmut, kura-kura, ayam, bebek dan anjing. Di masa itu hewan-hewan ini menjadi teman bermain kami setelah pulang dari sekolah.

Seingat saya interaksi pertama saya dengan hewan peliharaan adalah dengan seekor anak itik yang dibelikan oleh Mami, ibu saya. Bulunya lembut berwarna kuning muda. Saya ingat Ibu saya kemudian meletakkan itik tersebut di sebuah ember berisi air. Bagi anak-anak 5 tahun seperti usia saya saat itu, tentu lucu dan menggemaskan melihat itik kecil berenang-renang.
Selanjutnya adalah cerita yang sesungguhnya memalukan untuk saya ceritakan di sini. Karena setelah saya angkat dari ember saya letakkan anak itik itu di lantai pelataran belakang rumah kami. Mungkin karena geram atau apalah saya juga tidak mengerti, saya ambil sapu hendak memukul anak itik tersebut. Untung ada pembantu yang segera menahan dan menyelamatkan anak itik itu.. Selanjutnya anak itik diungsikan ke rumah pembantu kami.
Syukurlah sesudah itu tidak pernah ada lagi usaha pembantaian seperti itu..hehe

Sesudah itik, kami pernah memelihara burung merpati. Saya tidak banyak terlibat dalam pemeliharannya tapi saya ingat saya senang sekali melihat burung merpati bergerombol saat diberi makan sambil bersuara riuh rendah, “kur…kur..”.
Pada masa bertelur, adik-adik dan beberapa anak-anak tetangga sering mengintip dan memegang telur-telur merpati tersebut. Tetapi kemudian telur-telur itu tidak mau lagi dierami bahkan didorong keluar oleh induknya. Menurut cerita yang saya dengar, karena telur tersebut sudah dipegang-pegang manusia si induk tidak mengenalinya sebagai telurnya lagi.
Tadinya merpati kami banyak tetapi lama kelamaan burung merpati kami berkurang satu demi satu dan akhirnya habis, tinggallah kandang merpati yang dibuat menjulang tinggi kosong tak berpenghuni.

Hewan yang meninggalkan kesan yang sangat dalam bagi saya adalah seekor kelinci yang saya pelihara saat saya duduk di bangku SD. Kelinci tersebut berwarna abu-abu dan saya beri nama Scroovy. Setiap pulang sekolah selalu dia dulu yang saya sapa. Ssetelah meletakkan tas tanpa berganti baju saya langsung berlari ke kandangnya dan menggendong dia. Senang sekali bermain dengan Scroovy dan melihat hidungnya bergerak-bergerak. Itu kegiatan rutin saya setiap pulang sekolah sampai suatu hari saya tidak menemukan kelinci tersebut di kandangnya. Dari informasi tukang kebun kami, pagi tadi dia melepaskan kelinci tersebut karena kandang akan dibersihkan. Siang itu saya sibuk mencari Scroovy sambil memanggil-manggil namanya. Tapi tidak ada kelihatan tanda-tanda bahwa Scroovy ada di halaman. Saya sedih sekali, saya tahu dia pasti sudah lepas dan keluar dari pagar halaman belakang rumah kami yang hanya berupa kawat kandang ayam. Saya yakin dia keluar hingga ke kebun belakang yang ada dibelakang kompleks kami. Kebun belakang itu berupa rawa-rawa dengan semak yang padat. Habis lah sudah harapan saya untuk menemukan dia kembali karena di kebun belakang itu katanya tempat bermukim ular-ular sawah, pastilah dia sudah mati dimakan ular di sana. Hati saya hancur, sedih dan marah kenapa begitu ceroboh membiarkan Scroovy keluar dari kandang. Sampai sekarang rasa sedih itu masih terasa setiap kali saya teringat Scroovy kelinci abu-abu saya. Begitu lekatnya Scroovy, hingga sewaktu anak-anak ingin membeli kelinci, saya menjadi sedikit otoriter bahwa mereka harus membeli yang berwarna abu-abu.

Sekarang kami juga punya kelinci, kelinci milik Tita, Jilly namanya. Warnanya juga abu-abu, tapi saya jarang mengelusnya. Tetapi sesekali saya mengelusnya perasaan sayang dan kenangan saya akan Scroovy dulu muncul kembali.
Hewan lain yang dekat dengan kami tentu saja anjing, the men’s best friend. Dulu ada anjing kami yang bernama Yogi. Kami beri nama Yogi karena wajahnya mirip Yogi Bear tokoh beruang kartun Yogi Bear. Yogi adalah seekor anjing betina berwarna coklat keemasan tetapi dada, ke empat kaki dan ujung ekornya berwarna putih. Menurut orang Cina, anjing seperti itu tidak baik, tidak bisa menjaga rumah dan rakus...hehe. Rakus..iya memang Yogi itu rakus.
Sesudah Yogi, ada Bruno, Brenda, Bondo, Untung, Rambo dan terakhir Rocky.

Macam-macam kejadian yang kami alami gara-gara anjing.
Pernah kami sekeluarga kecuali Papi, harus disuntik antirabies. Saat itu saya duduk dikelas satu SMP.
Ceritanya salah satu anjing kami beranak dan anaknya kami beri ke tetangga belakang. Tetapi lucunya anak anjing ini selalu datang bermain-main ke rumah kami. Suatu kali saya dengar kalau anak anjing tersebut tidak mau makan, lalu saat sore dia datang ke rumah kami, saya memberinya susunya. Ternyata memang dia tidak mau menyentuhnya seperti biasanya. Karena penasaran dan khawatir saya bermaksud menggendongnya. Tetapi saat saya gendong digigitnya lengan kiri saya. Saya pun melepaskannya kembali. Saat itu tidak ada orang di rumah selain saya. Malamnya saya masih ragu-ragu untuk menceritakan kejadian tersebut. Tetapi karena saya sering mendengar cerita Opa, kakek saya tentang penyakit anjing gila yang ditandai anjing tidak mau minum, saya pun akhirnya menceritakannya ke Mami.
Esoknya, kami membawa anak anjing tersebut ke dokter hewan. Dokter hewan langsung menyatakan bahwa sebaiknya otak anjing tersebut diperiksa dengan kata lain anak anjing tersebut harus dibunuh. Saat itu pemeriksaan jaringan otak anjing harus dilakukan di Bandung dan kami menunggu 1 minggu untuk hasilnya.
Ternyata hasilnya anak anjing kami tersebut positif terjangkit rabies.
Akibatnya kami sekeluarga Mami, saya, adik saya Yoyon dan Alfons kecuali Papi dan tetangga kami, keluarga Fuad yang terdiri dari Oom dan Tante Fuad, Monti dan Monik anaknya kecuali Mechta si sulung, harus disuntik antirabies. Kami berdelapan lah yang paling banyak berinteraksi dengan anak anjing ini.
Saat itu suntikan diberikan setiap hari selama 14 hari di sekitar pusat. Jadi lah setiap pagi sebelum ke sekolah kami harus ke Dinas Kesehatan Kota untuk disuntik. Setelah 14 kali suntikan, daerah pusat kami bengkak merah seperti apel...uuuhh...
Tetapi itu lebih baik daripada kami melolong seperti anjing...hahaha

0 komentar: