Tapi untunglah sebelum Linley kembali ke Indonesia dia sudah menyerahkan semua berkas-berkas perwalian kepada saya begitu juga semua berkas-berkas medis milik Asima dan Ralita. Saya akui Linley memang seorang wanita yang sangat rapi, semua terorganisir dengan baik. Itu yang membuat saya khawatir apakah saya sanggup seperti dia. Saya hanya bisa berdoa agar saya diberi kekuatan mental dan fisik untuk menyandang tugas ini menggantikan dia selama hari-hari selanjutnya lebih kurang 1 1/2bulan.
Satu hari sebelum jadwal operasi, kami banyak menerima telepon dari teman-teman di Galveston Area dan Houston yang menyampaikan doa dan harapan tentang operasi Ralita.
Itu semua menguatkan kami.
Pada hari yang telah ditentukan, kami diminta datang pagi subuh untuk persiapan operasi yang dijadwalkan akan diadakan jam 10. Jarak rumah sakit dengan apartemen kami memang tidak jauh hanya sekitar 500 meter tapi pagi itu kami diantar seorang teman Ken Hanning seorang pendeta yang jauh-jauh hari telah berjanji sewaktu-waktu kami butuh transport dia siap mengantarkan kami.
Karena Asima masih berumur 11, dia tidak mungkin kami tinggalkan di apartemen sehingga dia juga harus ikut dan juga menginap di rumah sakit selama Ralita di rawat. Jadi lah kami bertiga berangkat pagi itu dijemput Ken Hanning.
Cuaca dingin dan berkabut membuat kami hampir kesasar karena kami harus mengambil jalan putar berbeda dari yang biasa kami jalani kalau berjalan kaki. Dan itu membuat kami semakin gelisah dan menggigil.
Setiba di rumah sakit Ralita dibawa ke ruangan untuk persiapan. Jam 07.00 pagi 2 orang dokter residen bedah memeriksa Ralita dan menandai daerah yang akan dioperasi.
Operasi ini bertujuan untuk melepaskan jaringan kontraktur yang menyebabkan lengan kanan Ralita melekat mulai dari ketiak hingga pinggang sebatas siku. Untuk menutup daerah yang dibebaskan dan mengganti jaringan kulit yang rusak akan digunakan jaringan kulit dari daerah bahu. Dan untuk menutup luka di daerah bahu dia akan diberi jaringan kulit ari dari daerah paha kanannya. Bisa dibayangkan betapa rumit dan betapa banyak daerah yang nantinya memerlukan perawatan dan memberikan rasa sakit yang hebat bagi Ralita.
Saat menunggu di ruangan, Ralita sedikit gelisah, tangannya dingin. Malam sebelumnya dia sudah menghubungi orang tuanya di kampung di Nagapane Simalungun untuk meminta doa restu agar operasi berjalan lancar.
" Saya takut Bu..saya ingin pulang...saya rindu kampung. Saya menyesal saya ke sini Ibu..? "
"Jangan ragu Ralita, kamu sudah sejauh ini sebentar lagi kamu bisa mengangkat tanganmu, kamu bisa meneruskan sekolah dan kamu bisa menjadi biarawati seperti keinginanmu" saya coba memberinya semangat. Dia tersenyum.
"Kita berdoa ya Ralita.." Saya ajak dia berdoa Bapa Kami dan 3 kali Salam Maria.
Selesai berdoa saya cium dia. Tak lama kemudian dia pun diantar masuk ke kamar operasi.Saya pun keluar menuju lobby dan menunggu di sana. Tak lama datang Nancy seorang teman lain dari Houston menemani saya. Kami berdoa sebentar lalu mengobrol tentang macam-macam untuk menghabiskan waktu.
Pukul 14.00 operasi selesai dan Ralita didorong ke kamar.
Karena luka di daerah bahu kanan dan paha kanannya, maka posisinya saat itu sedikit miring ke kiri. Aeroplane splint terpasang di lengan kanannya.
Disebut aeroplane splint karena bentuknya seperti sayap pesawat terbang. Alat itu berfungsi untuk immobilisasi dan meregangkan sendi bahu sedemikian rupa sehingga bekas luka di daerah ketiak Ralita tidak saling bertemu lagi. Dan Ralita harus mempertahankan posisi tersebut paling sedikit selama 3 bulan..! Kecuali saat dia ganti perban dan dibersihkan.
Begitulah malam dan harinya dilalui dengan posisi seperti itu.Sering malam-malam dia tidak bisa tidur atau terbangun tengah malam karena tidak nyaman dengan posisi itu. Saya sering harus bangun untuk membetulkan letak bantal yang menyokong bahu kanannya agar tetap tinggi, atau menggaruk daerah lengan kirinya jika gatal karena tangan kanannya terkunci.
Keadaan ini membuat dia jadi mudah tersinggung dan rewel.
"Capek aku Ibu...sakit sekali semua badan ku..lengan..paha.." keluhnya
"Kapan ini selesai.." sambungnya.
Saya mencoba menghiburnya dengan menceritakan tentang penderitaan yang Yesus alami untuk membebaskan manusia dari dosa.
"Rasa sakit ini juga untuk membebaskan kamu Ralita, supaya kamu bisa mengangkat tangan, bisa beraktivitas dengan normal. Ingat cita-cita kamu untuk menjadi biarawati kan..?" Dia memang ingin menjadi biarawati.
"Iya Bu..." jawabnya. Biasanya kemudian saya mengajaknya berdoa lagi.
Setiap hari dokter datang melihat lukanya dan setiap hari pula Ralita harus menahan sakit saat splint dibuka dan luka dibersihkan.
Suatu hari saya lihat jaringan yang menutup luka sedikit bengkak dan membiru. hal itu saya laporkan ke dokter Mc Caulay. Lalu beliau berbisik-bisik dengan residen dan saya mendengar mereka menyebut-nyebut "leech"
"Leech..lintah..? apa yang akan mereka lakukan dengan lintah..."pikir saya.Lalu kepada saya hal itu juga disampaikan tetapi saya saat itu belum sadar betul apa maksud beliau. Esoknya dokter residen membawa satu stoples kaca berisi...beberapa ekor LINTAH...ukurannya kira-kira 2 cm.
Barulah saya sadar bahwa lintah akan dipakai sebagai terapi untuk memperlancar aliran darah dijaringan kulit agar pertumbuhan jaringan tersebut baik. Saat mengisap darah lintah akan mengeluarkan suatu zat anti pembekuan yang disebut Hirudin yang sudah lama dipakai untuk mencegah bekuan darah. Betapa bodohnya saya tidak menyadari hal itu waktu saya dengan dokter menyebut-nyebut tentang lintah.
Ralita tidak punya pilihan selain menyetujui lintah diletakkan di kulitnya, membiarkan lintah mengisap darah di jaringan kulit yang menutup lukanya tersebut. Ada 3 ekor lintah diletakkan di situ dan saya harus memantau agar lintah tidak kemana-mana. Lintah yang dipakai ini lintah yang memang dibiakkan untuk terapi sehingga dia tidak mengandung bibit penyakit. Dan setiap kali selesai mengisap darah, lintah akan dimusnahkan. Saya terkagum-kagum melihat lintah ini. kalau sudah kenyang dia jatuh sendiri dan ukurannya bisa sebesar jempol orang dewasa. Hasilnya memang nyata, hematom atau kebiruan dijaringan kulit penutup tersebut memang hilang setelah 3 hari terapi dengan lintah.Sungguh pengamalan yang unik melihat terapi lintah di negara adikuasa.
Setelah sepuluh hari kami di rumah sakit kami diizinkan pulang dan Ralita boleh berobat jalan untuk kontrol luka. Semua gembira bisa lepas dari "penjara" rumah sakit tetapi Ralita tetap harus menjalani hari-harinya dengan aeroplane splint nya. Tetapi itu tidak membuat senyumnya hilang dari wajahnya. Dan hal itu lah yang membuat banyak teman-teman Amerika itu jatuh hati padanya. Kami menyebutnya duta senyum dari Nagapane...


0 komentar:
Poskan Komentar