Rabu, April 08, 2009

Berpakaian Sikh di Perayaan Tujuhbelasan

Masa dulu kami kecil-kecil di Kampung Baru, setiap tanggal 17 Agustus adalah hari yang kami tunggu-tunggu. Karena di Kompleks RISPA, tempat kami tinggal Hari Kemerdekaan selalu dirayakan dengan berbagai macam kegiatan, ada bazaar yang diselenggarakan istri-istri karyawan RISPA, ada perlombaan-perlombaan, ada fashion show anak-anak, ada jamuan makan malam untuk karyawan dan keluarganya dan ada layar tancap.

Saya punya kenangan manis dan lucu untuk semua itu.

Bazaar seingat saya diadakan di hari Minggu sebelum tanggal 17 Agustus di halaman kantor. Bazaar ini terbuka untuk umum dan keluarga karyawan boleh berpartisipasi membuka stan penjualan. Dan dari tahun-ke tahun spesialisai keluarga kami adalah rujak gobed (gobed pakai t, atau pake d..gak ngerti deh..hehe).
Rujak gobed adalah rujak khas dari Jawa Timur, daerah asal ayah saya. Bengkuang, timun, nenas, mangga, jambu air diparut lalu diaduk dengan bumbu rujak yang terdiri dari campuran gula merah, petis dan cabe rawit.
Itulah rujak gobed.

Dan Ayah saya paling semangat kalau sudah mau jualan rujak gobed. Malam sebelum bazaar dia lah yang menyiapkan semua, mulai dari mengupas, memarut dan meracik bumbu rujaknya. Orang lain tidak boleh ikut campur dalam urusan rujak ini, termasuk Ibu saya.
Saat jualan esok harinya, ayah saya juga pintar menarik perhatian agar orang mau mampir ke stan kami. Tanpa malu-malu dia akan mempromosikan barang dagangannya.
"Ayo...beli rujak gobed...segar..sehat...asli dari Surabaya..." begitu teriakannya.

Hal lain yang saya ingat tentang perayaan tujubelasan di tahun 70an itu adalah layar tancap di halaman depan kantor. Biasanya yang diputar adalah film-film India. Makanya acara layar tancap selalu menjadi ajang hiburan buat para pembantu rumah tangga dan karyawan/ti kebun, juga sebagai arena kencan dan mencari jodoh..hehe
Perlengkapan nonton layar tancap adalah celana panjang, baju kaus lengan panjang beserta kaus kaki agar tidak digigit nyamuk, dan jangan lupa tikar pandan tempat kami duduk menonton layar tancap. Uh...seru sekali.
Tapi yang paling mengerikan sebenarnya bukan nyamuk, tapi pacet. Karena rumput halaman depan kantor rumputnya rumput gajah dan kalau lembab sedikit langsung ada pacetnya..hiiiii...


Tapi ada satu pengalaman traumatik buat saya dengan acara fashion show anak-anak di acara tujuhbelasan.

Ceritanya dulu di kompleks ada tukang jual susu sapi murni, seorang sikh, yang dikenal dengan sebutan orang Bengali karena berasal dari Bengal India. Setiap pagi dia mengantar susu naik sepeda, lalu berteriak "Sussuuuu...." di depan rumah-rumah langganannya. Sebagaimana orang sikh, ya mereka umumnya memakai sorban di kepala dan memelihara janggut.
Begitulah tukang susu ini menjadi langganan kami dan karena umumnya mereka juga pintar berbahasa Inggris, ibu saya jadi suka ngobrol dengan mereka. Akhirnya hubungan keluarga kami dengan keluarga tukang susu menjadi lebih akrab, lebih dari sekedar penjual dan pembeli.
Mungkin karena itu lah timbul ide , untuk fashion show di suatu acara tujuhbelasan, saya disuruh...atau lebih tepatnya dipaksa untuk mengikuti fashion show dengan memakai pakaian tradisional Sikh ini, tunik biru dengan celana panjang dan selendang. Tapi dari awal saya sudah menolak, tapi bagaimana lah namanya anak, kadang menolak pun tidak ada gunanya...hehe

Jadi pada hari H, saya didandani dengan tunik, dipakaikan celak mata (eyeliner) agar mirip seperti anak-anak Sikh, diberi gelang warna-warni yang kami beli di toko kain Narain di Kampung Keling (sekarang Kampung Madras).
Waktu didandani pun saya sudah tersiksa sekali, celak mata membuat mata terasa pedih...iiih..benci sekali.
Lalu saat tiba giliran saya naik ke panggung, saya mogok...saya benar-benar mogok..tapi saya ditarik-tarik untuk melenggak lenggok di panggung....saya merasa malu...lalu saya menangis.

Akhirnya mereka menyerah dan saya pun tidak jadi melenggak lenggong di panggung.
Saya bebas...tetapi rasanya ketakutan itu masih tinggal..
Mungkin dulu saya takut karena saya pikir kalau sudah dipakaikan celak, gelang dan dipakaikan baju tradisional Sikh, selanjutnya saya akan pindah ke rumah Sikh dan jadi anak Sikh...hehehe...
Mungkin trauma itu yang menyebabkan saya juga tidak mau jadi peragawati..

Hehehe...

0 komentar: