Rabu, April 15, 2009

Bersiap Melepas Tita

Akhir-akhir ini pikiran saya dipenuhi dengan urusan persiapan Tita untuk Ujian Akhir Nasional SMA dan urusan mau ke mana dia setelah selesai SMA. Begitu banyak Perguruan Tinggi Negeri yang melaksanakan ujian mandiri diluar SMPTN (Seleksi Masuk Perguruan Tinggi Negeri) dan informasinya hanya ada di internet. Bulan Februari yang lalu kami sempat ke Pekan Baru agar dia bisa ikut ujian penerimaan mahasiswa baru di UI (SIMAK UI) padahal UAN sendiri belum dilaksanakan. Walaupun akhirnya dia tidak diterima, yah saya memang sudah ikhlas dan rela. Paling tidak dia sudah tahu bagaimana model ujian penerimaan.

Semua urusan-urusan ini menyebabkan saya terhenyak, betapa waktu cepat sekali berlalu.

Bayi kecil yang dulu saya timang-timang sekarang sudah lebih besar dari saya dan sedang bersiap-siap pula untuk meninggalkan saya. Iya..sudah niatnya dia tidak mau sekolah di Medan. Pilihan pertama jatuh ke Surabaya, karena pamannya, paman kesayangannya, adik saya yang bungsu ada di sana. Saya memang tidak pula pernah melarangnya. Karena saya ingin dia tahu bahwa mendukung apa pun pilihannya dengan syarat dia bersungguh-sungguh.

Tapi...aahhh...perasaan saya bercampur aduk antara senang dan sedih. Senang karena dia benar-benar berniat untuk belajar mandiri, tapi sedih karena dia mau meninggalkan Medan, meninggalkan saya.

Rasanya masih segar dalam ingatan masa-masa saya mengandung dia. Saat itu saya masih sekolah, ko-asisten di Rumah Sakit Pirngadi Medan. Hamil muda saya habiskan di bagian Kulit Kelamin dan masa-masa hamil tua saya stase di Bagian Anestesi. Kehamilan saya yang pertama ini benar-benar lancar dan aman, tidak ada morning sickness, selera makan juga baik. Saya sangat menikmati kehamilan saya meski saat itu harus bersekolah. Justru dengan keadaan ini saya mendapat "privilege" di setiap bagian yang saya lalui...hehe..
Ya namanya anak pertama, semua anjuran dokter dilaksanakan, senam hamil, banyak jalan, bahkan saya juga tetap renang meski perut melentung.
Dan lorong-lorong di rumah sakit Pirngadi pun menjadi track jalan saya setiap hari.

Tita lahir tahun 1991 tepat di hari kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus. Lebih cepat 2 hari dari taksiran tanggal persalinan. Beberapa hari sebelum tanggal kelahirannya, ayah saya kumat sakit jantungnya sehingga harus diopname di Rumah Sakit Santa Elisabeth. Lalu saya diminta oleh ibu saya untuk ikut menemaninya menjaga ayah di rumah sakit.
"Kan sekalian nanti jika sudah waktunya melahirkan kau bisa langsung ke kamar bersalin" begitu alasan ibu saya.
"Ah..Mami...tanpa alasan itu pun saya tentu mau menjaga Papi.."

Tanggal 16 Agustus pagi, saya mendapat tanda-tanda akan melahirkan, lendir bercampur darah (slijm prop) muncul saat saya buang air kecil. Ibu saya langsung panik dan segera mengantar saya ke kamar bersalin dan meninggalkan ayah saya dengan suami saya saat itu (sekarang sudah jadi mantan suami..hehe).
Setelah diperiksa ternyata pembukaan masih 2 cm dan saya dianjurkan pulang saja. Tapi lagi-lagi ibu saya khawatir kalau saya brojol di kamar ayah saya, jadi kami mengambil kamar di bangsal bersalin.

Pagi hari tanggal 17, saya terbangun karena perasaan seperti ada yang menyentak di dalam perut lalu saya merasa tempat tidur saya basah. Tadinya saya pikir saya ngompol, tetapi setelah saya raba cairan tersebut sadarlah saya kalau ternyata ketuban sudah pecah. Lalu saya bangunkan suami dan lapor ke perawat.

Sambil menunggu dokter saya datang, saya mencoba mengatasi rasa sakit dengan mempraktekkan gerakan pernafasan dari Lamaze yang saya peroleh dari buku Lamaze yang saya baca selama kehamilan. Jam 08.00, dokter yang selama ini memeriksa kehamilan saya dr. Erdjan Albar tiba. Beliau seorang dokter senior, sangat sederhana dalam pemikiran dan gaya hidupnya. Dan saya benar-benar beruntung telah memilih beliau menjadi dokter saya.
Begitu beliau datang, beliau langsung berdiri di dekat kaki kanan saya dan langsung meminta saya untuk meletakkan kaki kanan saya di pinggulnya.
"Letakkan kakinya di situ dan sepak saya saat mengedan" perintahnya
What...? Are you sure....? Karena saya kelihatan ragu-ragu, beliau menginstruksikannya lagi.

Ternyata posisi itu membuat saya nyaman sehingga saat mengedan kaki saya yang menekan pinggul beliau menjadi penumpu dan tenaga pun rasanya bertambah.
Hanya tiga kali saya mengedan...dan lahir lah Tita..ah...melihat dia yang begitu montok dan mungil lupa lah semua rasa sakit tadi...

Setelah usia Tita 3 bulan, saya kembali melanjutkan stase saya di rumah sakit. Saya hanya sempat menyusuinya selama 2 bulan. Saya pernah menangis karena tidak bisa menyusuinya Dan pada saat dia sudah bisa makan saya pernah menangis karena dia tidak mau makan.
Saat saya stase di Bagian Bedah dan Kebidanan, di mana mahasiswa diharuskan tinggal di asrama adalah saat yang berat bagi saya. Adakala saya tidak bisa pulang dan Tita diantar ke asrama dan karena Tita kecil gendut dan menggemaskan, semua teman-teman berebutan menggendongnya.
Meski berat punya anak sambil sekolah tapi saya merasa beruntung bahwa saya sudah punya anak saat saya wisuda. Rasanya punya nilai plus membanggakan sekali. Tapi saya tidak akan menganjurkan Tita untuk mengikuti jejak saya..hehe

Tamat sekolah saya langsung bekerja di rumah sakit, ada dinas sore dan dinas malam.
Sehingga Tita tetap banyak saya tinggal.
Praktis yang lebih banyak mengasuh Tita adalah neneknya, ibu saya yang dia panggil Oma.

Ya itu lah...saat-saat dia mulai berpikir untuk meninggalkan saya, ada rasa sesal di hati, kenapa saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan bekerja daripada bersama dia.
Sepertinya banyak momen yang hilang. Banyak momen yang seharusnya saya bersama dia tapi terlewatkan oleh saya.
Hal-hal ini membuat saya sedih, ingin rasanya saya kembali dan memperbaiki apa yang belum saya lakukan bagi Tita. Saya ingin dia tahu kalau saya sangat mencintai dia termasuk saat kami bertengkar.
Ah...ah...seandainya saya bisa punya mesin waktu...

Hari-hari menjelang UAN ini saya ingin berusaha sebanyak mungkin berada bersama dia, saya ingin dia punya kenangan yang manis sebelum meninggalkan kami untuk pergi jauh menimba ilmu. Semoga....semoga....

2 komentar:

YoHard mengatakan...

Mbak... ikutan terharu nih membacanya. Ada beberapa poin yang saya dapat saat membacanya, yaitu:
1. Waktu sangat cepat berlalu,
2. Kehadiran orang-orang yang kita kasihi saat berada dekat kita adalah saat yang paling membahagiakan dalam hidup ini yang ngga bisa digantikan dengan uang/ harta/ kekayaan seberapapun besarnya...

Tapi saya yakin bahwa Tuhan akan terus membimbing, menjaga dan dekat dengan Tita sejauh apapun dia berada dari Mb. Niek nantinya..

Maria Niniek mengatakan...

Thank you Yo..benar memang waktu itu cepat sekali berlalu..Makanya jangan kita sia-sia kan...