Baru saja masyarakat Tionghoa merayakan Imlek yang jatuh pada tanggal 26 Januari 2009. Imlek sesungguhnya bukan lah hari raya keagamaan, tetapi merupakan tradisi Tionghoa dalam menyambut tahun baru. Karena bukan perayaan keagamaan, maka sejak beberapa tahun terakhir ini beberapa gereja Katolik di Medan mengadakan misa pada hari Imlek bagi masyarakat keturunan Tionghoa. Saat itu dibagi-bagi juga angpau dan jeruk mandarin kepada anak-anak sebagai lambang kemakmuran.
Selain angpau dan jeruk mandarin, kue keranjang atau kue bakul yang menyerupai dodol dan terbuat dari tepung beras juga selalu ada di hari Imlek. Semua mempunyai makna tersendiri.
Sebagai seorang yang lahir dari ayah Jawa dan ibu keturunan Tionghoa, di mana masa kecil banyak dihabiskan bersama keluarga dari pihak ibu, maka tradisi Imlek sedikit banyak merupakan bagian dari masa anak-anak saya.
Bagi anak-anak tentu Imlek berarti angpau (ang=merah, pau=bungkusan, amplop). Mereka yang sudah berkeluarga wajib memberi angpau. Senang sekali rasanya kalau saat mengunjungi keluarga Mami atau kontraktor/rekanan perusahaan tempat Papi bekerja yang merayakan Imlek, karena sudah pasti kami akan mendapat angpau. Isinya bervariasi, tetapi yang pasti tidak akan berjumlah ganjil karena pantang memberi angpau berjumlah ganjil.
Walau kami di rumah tidak merayakan Imlek, tetapi Mami selalu rajin menyediakan angpau untuk kami saja dan kebiasaan itu masih diteruskan hingga sekarang. Tentu bukan saya lagi yang mendapat angpau, tapi anak-anak saya Tita dan Tanti.
Dulu Oma "Sungai Kera" begitu kami menyebut nenek, mama dari mami karena beliau dulu tinggal di Jl. Sungai Kera, juga masih suka menerapkan pantangan-pantangan di hari Imlek. Dilarang makan pepaya di hari Imlek, karena nanti hidupnya "payah"(entah apa hubungannya tapi kami ya koq menurut saja..haha), tidak boleh pakai baju hitam di hari Imlek, karena hitam identik dengan kematian. Pokoknya harus makan yang manis-manis, agar hari-hari selanjutnya manis.
Dari Oma Sei Kera juga saya tahu cerita tentang kue bakul yang hanya dimakan saat Imlek.
Konon dulu di Negara Cina sana, kue keranjang itu dibuat sebagai persembahan kepada dewa dapur....dewa dapur melapor pada kaisar langit setiap taun baru. Jadi supaya sang dewa dapur tidak melapor yang jelek-jelek kepada kaisar langit, ibu-ibu membuat kue yang lengket untuk menyumpal mulut si dewa dapur.
Aduh kasian sekali si dewa dapur ini.
Tapi memang kue bakul ini lengketnya minta ampun loh..
Oma Sei Kera paling takut kalau makan kue bakul, takut gigi palsunya lengket lalu tertelan bersama kue bakul tadi...hahaha
Saya paling suka makan kue bakul bila sudah lewat hari Imlek. Saat di mana kue bakul sudah keras kemudian dilumuri adonan tepung atau telur kocok lalu digoreng dan dimakan panas-panas.
Aduh...nikmatnya...Kadang kami dulu tidak sabar, begitu diangkat dari penggorengan langsung masuk mulut. Biasanya akan diikuti dengan "hoh..hah..hoh..hah..." karena kepanasan.
Lima belas hari setelah Imlek adalah perayaan Cap Go Meh (Cap Go=lima belas, Ameh=malam).
Pada saat itu bulan akan bulat dan bersinar terang.
Katanya Cap Go Meh paling cocok untuk pasangan yang sedang memadu kasih dan berencana menikah. Supaya tercapai, mereka harus keliling melewati 15 jembatan bukan jembatan penyebrangan ya tetapi jembatan dengan sungai yang mengalir di bawahnya. Makanya dulu, kalau sudah Cap Go Meh, banyak pasangan menumpang beca dan keliling kota Medan mencari jembatan. Masa panen bagi penarik beca..
Sekarang mungkin tidak banyak lagi yang keliling kota saat Cap Go Meh, mereka lebih banyak dugem di tempat-tempat keramaian, pergi makan di restoran yang sekaligus menyajikan penyanyi-penyanyi Mandarin.
Tapi sepertinya saya tertarik untuk keliling kota menumpang beca saat Cap Go Meh nanti, bukan supaya enteng jodoh, tapi ingin merasakan sentuhan angin yang membelai wajah.
Saya ingat waktu anak-anak senang sekali kalau diajak naik beca. Saya langsung berdiri dan berpegangan pada pagar beca dan membiarkan angin membelai-belai wajah saya, membiarkan rambut saya berkibar-kibar...
Mungkin saya tidak akan berdiri, tapi saya akan meminta si Abang beca membuka kap nya..
Wah...pasti seru...
Last but not least, tentang Cap Go Meh, adalah bahwa setelah Cap Go Meh kita tidak bisa saling mengucapkan selamat tahun baru lagi. Jadi saya masih bisa mengucapkan
Gong Xi Fat Chai


0 komentar:
Poskan Komentar