Kamis, Desember 18, 2008

Kandang Natal


Tidak tahu kapan dimulainya, sepertinya sudah menjadi tradisi bahwa setiap tahun untuk menyambut Natal setiap departemen, unit dan ruangan di Rumah Sakit Santa Elisabeth sibuk berbenah dan menghias "diri" dengan pohon Natal dan gua Natal yang dibuat dari kantung-kantung semen yang dicat dan dibentuk menyerupai gua.
Ruangan yang paling indah dan semarak menjadi juara dan akan mendapat hadiah kecil.

Yang paling sering menjadi juara adalah Unit Admitting/Pendaftaran Pasien. Tetapi ada saja komentar unit lain yang tidak juara :
"Ah...di admitting kan berkumpul semua ahli-ahli mendesain gua, patung Keluarga Kudusnya juga lebih besar, ya..pantas lah mereka menang"

"Ah..mereka kan bergabung dengan Satpam dan Office Boy yang tinggi-tinggi itu sehingga bisa membuat gua yang besar menjulang ke langit-langit..kami di ruangan hanya perempuan, mau bagaimana.."

Bahkan kadang-kadang ada yang apatis dan mengatakan bahwa tahun ini pasti Admitting lagi yang menang. Kasihan...

Setelah bertahun-tahun dengan gua Natal, untuk tahun 2008 ini Direksi mengeluarkan fatwa bahwa gua Natal diganti dengan kandang Natal. Alasan Direksi karena gua Natal dengan kantong semen terkesan kumuh, gelap. Tetapi alasan yang utama adalah karena setelah perayaan Natal selesai dan gua Natal disingkirkan, dinding ruangan terkupas-kupas cat nya karena waktu membuat gua menggunakan slasiban untuk merekatkan kantong semen ke dinding.
Apakah hal itu karena kualitas cat dindingnya yang kurang bagus kalah dengan slasiban..tak tahu lah...
Tetapi begitulah, akhirnya tahun ini kandang Natal yang terbuat dari bilah bambu dan jerami akan menjadi tempat Yesus dilahirkan.
Wah...di mana pula mau mencari jerami di kota Medan ini..?
Gampang, Unit Bengkel bisa mencari bambu, jerami bisa dicari ke sawah-sawah di daerah Tanjung Morawa...beres kan ?
Hmmm.....okay...

Tak lama setelah fatwa diturunkan datanglah bambu dengan jerami ke rumah sakit bertumpuk-tumpuk di belakang di dekat Bengkel.
Karena lembab, jerami pun mengeluarkan aroma yang tak sedap. Untunglah tak sempat tumbuh jamur merang di situ...eh..eh..

Awalnya petugas di Unit Bengkel yang ditugaskan membuat kandang Natal untuk setiap unit dan ruangan.
Tetapi kemudian dibatalkan, keluar fatwa lagi : "Setiap ruangan harus berkreasi membuat kandang Natalnya sendiri dari bahan yang telah disediakan !"
Ampyuuuuuunnn...

Baru satu hari fatwa dijalankan saya sudah mendapat telepon dari dua ruangan umumnya mengatakan hal yang sama:
"Tolonglah, kami di ruangan tidak ada laki-laki (maksudnya karyawan laki-laki), bagaimana kami bisa membuat kandang Natal. Boleh kah kami minta petugas bengkel yang membuatkannya untuk kami ?"

"Mohon maaf, tidak bisa Kak...ini sudah keputusan Direksi, kalian harus kreatif.." jawab saya.

Dengan nada lemas akhirnya mereka mengiyakan penjelasan saya. Ahhh...

Sesudah menjawab telepon, aku teringat dengan kandang Natal kami di Direksi. Siapa yang akan membuatnya...? Kami di sini juga tidak ada pria kecuali Pak Direktur dan Wakil Direktur Pelayanan Medis. Apakah mereka mau turun tangan membuat kandang Natal juga..?
Bukan kah pimpinan harusnya memberi contoh, tidak hanya memberi perintah...? Hmmm...
Mohon maaf ternyata memang hanya Purnama, petugas rumah tangga kami yang membuatnya. Modelnya seperti rumah panggung lengkap dengan tangga. Aku melihatnya seperti kandang ayam di rumah kami.
Wah...bagaimana Ibu Maria bisa naik dengan model tangga seperti itu, apalagi dia sedang hamil besar...Ampunnnn Purrrr....
Tapi sudah lah, sudah lumayan Purnama bisa menyelesaikan sendiri tanpa bantuan orang lain. Si Purnama ini memang gagah...boru Hombing lah pula..

Kemarin siang, saat pulang aku melewati kandang Natal milik Bengkel.
Wah...betul-betul "kandang" ! Ada pula mereka buat khusus untuk kandang dombanya, lalu ada petak-petak rumput (seperti kalau kita membeli rumput di tukang bunga) yang disusun rapi.
Uh...rumput siapa lah itu yang mereka angkat.

Tapi ada satu yang membuat mata ini agak "pedih".
Ada pula tulisan "Rumah Kitik-Kitik" di gantung di atas kandang Natal. Rumah kitik-kitik artinya rumah kecil. Bah...apa yang salah dengan tulisan itu, kan benar rumah itu kecil.
Ya..tidak ada yang salah, tetapi semua orang di kota Medan ini tahu kalau istilah rumah kitik-kitik adalah untuk hotel-hotel melati sepanjang Jl. Jamin Ginting yang sering dipakai untuk.......
Ah..tak sampai hati aku menyebutnya..Kreatif...kreatif betul Unit Bengkel ini..
Aku pun berlalu dengan terbahal-bahak.

Mungkin kalau aku ke ruangan lain, akan banyak aku lihat kandang-kandang yang lebih unik lagi.

Semoga....
Selamat Natal semoga hati kita siap menyambut Kristus...

0 komentar: