Jumat, Desember 19, 2008

The Year of The Frog

Di Kompas hari ini (Kamis, 18 Desember 2008) terbaca saya artikel "Kodok, Indikator Perubahan Lingkungan"
Diceritakan bagaimana perubahan lingkungan menyebabkan turunnya populasi dan keanekaragaman jenis kodok. Saya bahkan baru tahu kalau tahun 2008 ini dinyatakan sebagai Tahun Kodok.

Membaca artikel itu mengingatkan pengalaman saya dengan kodok dan katak.

Semasa kuliah di Fakultas Kedokteran, untuk kepentingan pelajaran Fisika Kedokteran kami diminta mencari kodok untuk bahan praktikum. Ketika hal itu saya sampaikan ke Mami, dengan semangat beliau menyanggupi untuk mencarinya. Maklum siapa yang tak senang anaknya masuk fakultas kedokteran di universitas negeri lagi.
Tentu maksudnya mencari bukan mencari di sawah-sawah tetapi dibeli di Pasar Sambas tempat kami membeli kodok kalau ingin merasakan nikmatnya paha kodok goreng. Mohon maaf bagi yang geli dengan makanan eksotis ini.
Jadilah suatu sore saya pulang mendapati sudah ada kodok di rumah, bukan satu ekor tapi beberapa ekor, dimasukkan ke dalam bejana kaca yang besar di ruang tamu pula…
Alamak….
Waktu saya tanya kenapa begitu banyak,
“Ya, mana tahu ada teman-teman lu yang tidak dapat kodok, kan bisa lu bagi ke mereka” jawab Mami
Masuk akal juga.

Tapi malamnya, entah kenapa tersenggol Mami lah bejana ini sehingga bejana terguling dan pecah. Air mengalir kemana-mana di ruang tamu dan pasukan kodok berlompatan ke sana kemari.
Siapa pula yang berani menangkap kodok itu…hiiii….saya sudah berteriak-teriak kesetanan.
Untunglah ada Miyem, pembantu kami dan Wak Selamat tukang kebun kami yang sigap datang begitu mendengar teriakan saya.
Akhirnya memang seperti menangkap kodok di sawah…

Pengalaman kedua dengan kodok lebih tepatnya katak terjadi waktu saya mengikuti Rapat Kerja PERDHAKI di Lampung.
Kami ditempatkan di rumah retret di daerah Lampung. Rumah retret tersebut dikelilingi halaman yang luas dan asri jauh dari perumahan penduduk. Berjalan turun ke bawah ada sendang dengan Gua Maria.

Kamar mandi terletak terpisah dari kamar tidur dan berada di ujung lorong.
Ada 6 kamar mandi disediakan. Di salah satu kamar mandi ini lah saya dicium “Pangeran” Katak.


Kejadiannya saat saya bangun dari istirahat sore terasa niat ke kamar mandi karena ingin menunaikan tugas mulia “poep”.
Lalu saya menuju kamar mandi yang paling ujung.
Setelah melakukan berbagai persiapan ini dan itu, saya pun duduk di toilet. Biasalah…sambil bertugas memandangi pintu toilet.
Tiba-tiba mata saya menangkap sebuah benda yang melekat di pintu, berwarna kecoklatan, licin dan berkilat…setelah saya cermati ternyata seekor katak.

Agak was-was juga saya, takut dia melompat mendekati saya.
Akhirnya sambil bertugas mata saya tak lepas mengamati si katak. Tetapi perasaan saya koq sepertinya dia juga sedang mengamati saya, kacau ini..
Saat saya membetulkan posisi duduk saya, eh..dia bergeser sedikit ke kanan. Mati aku…
Tiba-tiba…ya ampun…tiba-tiba…dia melompat….ke arah kepala saya. Saya pun berdiri dan berteriak-teriak sambil menggoyang-goyang tangan di kepala saya…
Setelah yakin katak tidak ada di kepala dan di tubuh saya, saya mulai cari di mana sang katak tersebut sekarang.
Ternyata “sang pangeran” katak sudah berada di dinding belakang tepat di atas toilet.
Buyar sudah niat saya menunaikan “tugas mulia” …buru-buru saya keluar dengan handuk menutupi kepala. Toilet pun tidak sempat saya “flush” lagi.

Malam harinya saya dengar Suster teman saya dari Medan bercerita kalau dia ketiban sial karena masuk ke toilet yang belum disiram oleh pemakai sebelumnya.
Saya hanya bisa meringis.
"Maafkan saya Suster…si pangeran katak telah mencium saya membuat saya lupa akan kewajiban saya…"

0 komentar: