Rabu, Mei 09, 2012

Cerita tentang Seorang Ibu dengan Dua Anak dan Sepedanya

Sudah beberapa bulan ini saya perhatikan bahwa setiap saya pulang dari kantor sekitar pukul setengah lima dan mengambil jalan pintas mengelilingi Bandara Polonia, saya melihat seorang ibu yang menggendong seorang anak kecil (bayi lebih tepatnya) sambil menggiring sepeda melintas di jalan itu. 
Di atas boncengan sepeda duduk seorang anak juga, yang selalu dalam posisi kepala terkulai di atas sadel sepeda. Sepertinya dia sedang tidur.
Mereka selalu berjalan searah dengan arah saya pulang.
Kadang saya melihat mereka sedang berhenti dipinggir jalan dibawah pohon teduh, mungkin sebentar istirahat. 
Pertama saya menyadari keberadaan mereka, hati saya bertanya :mengapa Ibu ini berjalan dengan sepedanya dan bukannya menaiki sepedanya itu. 
Tapi kemudian saya perhatikan bahwa pada pertemuan-pertemuan berikutnya tidak pernah sekalipun saya lihat si Ibu sedang menaiki sepedanya.
Sungguh mengherankan saya.
Lalu saya pikir, mungkin sulit baginya mendayung sepeda dengan seorang anak di gendongan dan seorang anak lainnya di boncengan yang (selalu) terkulai tidur.
Mungkin demi keselamatan anak-anaknya Si Ibu merasa lebih baik menggiring sepedanya daripada menaikinya.

Setelah pertanyaan saya itu terjawab oleh asumsi saya sendiri, ternyata muncul pertanyaan lain.
Mengapa saya selalu bertemu dengan mereka di waktu-waktu yang hampir sama setiap saatnya ? Dari mana kah Ibu ini ? Mengapa selalu bertiga dengan 2 anak yang masih kecil ? 
Pertanyaan itu pun kemudian saya jawab sendiri.
Mungkin Ibu ini adalah ibu bekerja, sama seperti saya. Bedanya ketika anak-anak saya masih kecil ada ibu saya (Oma dari anak-anak saya) yang menjaga mereka di rumah, ada juga pembantu yang membantu Ibu saya mengurus anak-anak ini. Sementara si Ibu ini tidak punya pembantu atau keluarga yang bisa diminta tolong menjaga anak-anaknya. sehingga ke mana pun dan di mana pun Ibu ini bekerja, anak-anak harus turut serta dibawa. Itu asumsi saya.
Ah...mirisnya hati ini melihat kondisi seperti itu.

Kemarin saya melintas di jalan yang sama bersama Tanti dan kami bertemu dengan mereka.
"Itu Dek, yang pernah mami ceritakan" sambil menunjuk mereka.
"Mungkin Ibu itu kerja dan anak-anaknya tidak ada yang menjaga, sehingga anak-anak harus ikut dibawa-bawa. "
"Makanya kamu mesti berterima kasih sama Oma. Waktu kalian kecil dan mami harus kerja, Oma lah yang menjaga kalian" sambung saya lagi.

Tanti terdiam..Mudah-mudahan dia mengerti maksud saya.

1 komentar:

emhade mengatakan...

jadi kenapa dan ada apa sebenarnya dengan ibu itu?
bukan asumsi anda atau asumsi orang orang,
jadi "kenyataannya begini",
bukan "mungkin begini".