Jumat, Mei 20, 2011

Si kecil ku 13 tahun Hari Ini

20 Mei 13 tahun yang lalu, si kecil kami lahir dengan berat badan 3400 gram dan panjang 51 cm. Lebih berat 100 gram dan lebih panjang 2 cm dari kakaknya.


Usia ku saat itu 32 tahun dan sedikit merasa kagok dengan proses kelahirannya karena jarak kelahiran kakaknya dengan si kecil ini terpaut 7 tahun meski usiaku saat itu masih layak untuk melahirkan.


Si kecil kami ini lahir di masa krisis demokrasi negara kita ini. Beberapa hari sebelum kelahirannya, terjadi kerusuhan di Medan yang kemudian menjalar juga hingga Jakarta.

Kami sempat khawatir bagaimana jika saatnya tiba kami bisa sampai dengan selamat di rumah sakit jika harus melewati kerusuhan yang terjadi.

Masih segar dalam ingatan lengangnya lalu lintas di depan rumah kami beberapa hari sebelum aku melahirkan, yang terdengar hanya suara tembakan dan suara orang-orang yang berteriak dan melempar ruko-ruko yang ada disepanjang jalan.



Tapi ternyata Tuhan sungguh baik. Di tanggal 19 sore, saat tanda-tanda kelahiran muncul (meski saya sempat bingung apakah ini his atau mules karena paginya makan sambal petai..:)suasana sudah lebih tenang sehingga kami bisa meluncur dengan aman.

Tapi masih ada kendala lain, karena ternyata dokter yang menangani ku tidak berani keluar rumah, merasa masih belum aman, sehingga harus dijemput dengan ambulans.


Sekitar jam 8 malam, dokter muncul di kamar bersalin. Aku hanya bisa nyengir menyambutnya.

Perawat kemudian menawarkan celemek untuk digunakan dokter, tapi beliau menolak.

Tak lama dia mulai bersiap-siap untuk melakukan periksa dalam. Tiba-tiba aku merasa seperti ada sesuatu yang mendorong dari dalam tadinya aku tidak menyadari itu apa ternyata tiba-tiba tanpa bisa aku tahan, selaput ketuban ku pecah dan air ketuban muncrat ke dokter yang sedang bersiap-siap. Baju nya basah kuyup hingga setinggi pinggang, aku merasa tidak enak tapi itu kan bukan salah ku, mengapa tadi dia menolak celemek yang yang ditawarkan perawat.

Yang aku harapkan tidak ada aroma petai di situ...haha...



Tapi sampai jam 11 malam, meski his sudah makin kencang dan sering koq sepertinya aku tidak punya tenaga untuk mengeluarkan bayi yang kami tunggu-tunggu.

Dokter sudah mulai terlihat tidak sabar. Diperintahkannya bidan untuk naik mendorong perutku dari arah atas. Tapi aku keberatan karena aku tahu risikonya.

"Jangan pegang perut saya, saya makin tidak bisa konsentrasi nanti" teriak saya.

"Baik lah, tapi kalau kali ini tidak berhasil juga di vacum ya ?" kata dokter ku itu sedikit kesal.



Waduh, aku makin takut, membayangkan kepala bayi ku disedot dengan alat yang mirip sedotan wc lalu kepala bayi ku jadi munjul seperti cone head...Oh..no...no....

Ayo, ngedan yang kuat.


Akhirnya dengan sekuat tenaga yang mungkin terpicu karena rasa ngeri membayangkan kepala bayi ku nanti seperti conehead, aku pun mengedan dan akhirnya muncul lah si kecil kami yang terlihat sangat jangkung dengan kaki nya yang panjang seperti korek api.

Meski berat lahirnya lebih berat 100 gram dari kakaknya tapi dia terlihat lebih kurus dari kakaknya yang lahir dengan tubuh yang gempal dan bulat.


Apa pun itu, Puji Tuhan dia lahir sehat, lengkap dan menangis kuat.

Dia lahir pada Hari Kebangkitan Nasional, sangat nasionalis menyusul kakaknya yang lahir pada Hari Kemerdekaan.



Saat merapikan aku, dokter sedikit ngedumel.."mentel kali si Maria ini, tidak mau dipeganglah perutnya, tidak bisa konsentrasi lah katanya..disemprot pula aku tadi" katanya

Aku lagi-lagi hanya bisa nyengir.



Itulah akhirnya bayi yang kemudian diberi nama Constantia Maria Hasianne hadir dalam hidup ku. Hasianne adalah nama yang khusus aku berikan untuknya. Berasal dari bahasa Batak Toba "hasian" yang berarti sayang. Aku memang ingin menunjukkan identitas darah Batak yang dimilikinya. Meski kadang dia malu memakai nama itu, karena sering diganggu dengan menyebutkan nama "hasianne" dengan menggunakan "e" pepet sehingga terdengar tidak indah ditelinga.



Dengan jarak usia yang terpaut 7 tahun dari kakaknya, sedikit berkuranglah kerepotan menjaga dua anak karena Tita si kakak, lebih banyak diasuh oleh neneknya.


Setelah mereka beranjak remaja sering saya menyesal, kenapa lama sekali mengambil keputusan untuk memberi adik bagi si kakak, sehingga mereka seperti terlihat sulit untuk kompak. Untuk menarik perhatian si kakak, sering si adik mengambil sikap seolah-olah dia sebaya dengan kakaknya.

Lucu dan unik melihat interaksi mereka berdua.


Sekarang setelah si kakak jauh, aku sangat mensyukuri keadaan mereka yang terpaut usia 7 tahun. Karena meski si kakak jauh belajar di seberang pulau, masih ada yang bisa aku peluk-peluk, masih ada yang bisa menemani aku kemana-mana.

Si kecil ku ini memang selalu setia bersama ku. Dia selalu tahu suasana hati ku.

Dia lah sumber kegembiraanku, celutukannya selalu membuat aku tertawa.



Dek..di hari ulang tahun adik ini, mami mau bilang kalau adik adalah hadiah dari Tuhan yang paling indah setelah kakak Tita. Tanpa adik mami akan sangat merasa kesepian.

Semoga di usia yang semakin bertambah ini, adik makin rajin dan pintar, selalu diberkati Tuhan dengan kesehatan dan kebijakan sehingga menjadi anak kesayangan Tuhan dan semua orang. Dan adik harus jadi yang lebih baik dari mami ya Nak..

Mami sangat sangat menyayangi adik...



0 komentar: