Mungkin itulah yang ada dibenak dua anak manusia yang datang menemui saya di kantor, di suatu hari di awal tahun 2011. Mereka masih muda, mungkin masih berusia sekitar awal 30an.
Mereka datang untuk urusan surat keterangan meninggal orang tua mereka (ayah).
Ayah mereka meninggal karena penyakit kanker lever yang dideritanya di rumah sakit tempat saya bekerja. Permasalahan yang membuat mereka harus menjumpai saya adalah karena mereka ingin meminta agar rumah sakit merubah penyebab meninggal yang tercantum di surat keterangan meninggal.
Hal seperti ini sudah sering saya temui dan tentu saja sesuai ketentuan hukum hal ini tidak bisa dilakukan. Dokter atau rumah sakit tidak bisa merubah keterangan atau mengeluarkan keterangan palsu.
Saya tahu ini terkait dengan masalah asuransi.
Begitu saya berikan alasan mengapa kami dan saya pribadi tidak bisa membantu mereka, si perempuan yang merupakan anak dari pasien yang sudah meninggal itu menangis dalam diamnya. Air matanya bergulir di pipi sementara si laki-laki yang kemudian saya ketahui adalah suaminya, tertunduk lemas.
"Hanya inilah harapan kami satu-satunya untuk melunasi hutang yang ditinggal ayah kami" kata si perempuan sambil terisak.
"Kalau saja kami tidak menceritakan kepada dokternya apa sakitnya, mungkin dokter tidak akan menuliskan penyakit kanker sebagai penyebab kematiannya.." sambungnya lagi.
Ayahnya masuk ke rumah sakit dalam keadaan sudah sekarat dan hanya bertahan 1 malam sebelum pergi untuk selama-lamanya.
Lama akhirnya saya berbicara dengan mereka.
Tahu lah saya kemudian bahwa hutang-hutang yang ditinggalkan ayahnya bukan lah hutang untuk perobatannya selama ini. Tapi hutang-hutang untuk menolong orang lain. Si ayah berusaha membantu petani-petani di kampung dengan membuka usaha kelompok tani dengan meminjam uang ke bank. Tapi sampai si ayah meninggal usaha itu belum bisa mengembalikan uangnya bahkan petani-petani yang dibantu pun tidak bisa berbuat apa-apa.
Bahkan menurut mereka sudah 2 bulan mereka berdua tidak bergaji, karena gaji mereka diambil untuk mencicil hutang ayah mereka.
"Anak kami masih bayi lagi..dan kami masih harus menanggung adik tiri kami.." isaknya
"Ada kakak, tetapi dia juga masih memiliki anak kecil" sambungnya lagi.
Ketika si perempuan bercerita, saya lihat si laki-laki meneteskan airmatanya.
Saya bisa merasakan perasaan luka sebagai laki-laki akibat ketidakberdayaannya.
Jadi memang uang asuransi jiwa ini lah yang mereka harapkan untuk membayar hutang-hutang si ayah.
Ternyata si ayah baru 1 tahun masuk asuransi dan menurut informasi agen bahwa dengan penyebab kematian kanker, uang asuransi jiwanya tidak bisa cair.
Saya tidak mengerti betul soal asuransi, tapi yang saya tahu uang pertanggungan akan dibayarkan meski nasabah belum 1 tahun membeli polis dan diagnosa penyebab kematian tidak berpengaruh kecuali kematian karena bunuh diri.
Saya tidak bisa mempungkiri bahwa hati saya trenyuh melihat beban kehidupan yang mereka hadapi. Saya berusaha untuk menjaga hati agar tidak terbawa emosi dan ikut menangis karena membayangkan kesulitan yang mereka hadapi.
Kepala saya berputar mencoba mencari kata yang mungkin bisa memberi harapan bagi mereka. Tapi saya tidak menemukannya.
"Mohon maaf dik, kami sangat prihatin dengan kesulitan kalian, tapi kami tidak bisa membantu seperti yang kalian harapkan. Tapi saya yakin ada jalan keluar yang bisa kalian temukan. "
"Coba pastikan sekali lagi dengan agen asuransi tentang semua peraturan yang ada terkait polis asuransi ayah kalian." itu lah akhirnya yang saya katakan.
"Saya pribadi selalu meyakini bahwa ketika Tuhan (kelihatannya) menutup pintu, Dia sesungguhnya membuka jendela untuk kita.." sambung saya lagi.
Saya tidak tahu apakah kalimat yang saya ucapkan bisa menghibur mereka, tetapi begitulah harapan saya.
Hidup ini memang berat...
Pertemuan saya dengan mereka membuat saya merenung dan mensyukuri bahwa meski ketika ayah saya meninggal, beliau tidak meninggalkan harta tapi setidaknya beliau tidak meninggalkan hutang.
Semoga kita semua para orang tua seperti itu, tidak meninggalkan harta atau hutang tapi meninggalkan kebijaksanaan dan kebajikan bagi anak cucu kita....


1 komentar:
Produk asuransi jiwa banyak terms and conditions nya. Dalam membeli asuransi sangat penting untuk melihat isi polis terutama di bagian PENGECUALIAN. Di bagian ini disebutkan dengan jelas apa2 saja membuat klaim tidak dibayar.
Poskan Komentar