berlibur bersama lagi, Desember 2010 yang baru saja lalu mami dan Tante Inge (adik mami) menikmati kembali berlibur bersama.Mereka terpaut usia 5 tahun, Mami 75 tahun dan Tante Inge 70 tahun.
Dari beberapa foto lama, aku bisa melihat bahwa di masa kami kecil, cukup sering dua kakak adik ini berlibur bersama, masing-masing dengan keluarganya.
Mungkin dengan kesibukan masing-masing, Tante Inge sebagai dokter dan Mami sebagai ibu rumah tangga, kegiatan tersebut terlewatkan bersama berjalannya waktu.
Sepupu-sepupu ku anak Tante Inge, begitu memasuki SMP di sekolahkan ke luar negeri. Mereka hanya pulang setahun sekali. Dan jika liburan tentu mereka lebih banyak menghabiskan waktu bersama baik di dalam maupun di luar negeri karena mereka mampu untuk itu.
Sementara kami yang begitu saya masuk SMP harus hidup sederhana karena Papi sudah pensiun (salah satu alasan bagi pria untuk tidak menikah di usia di atas 40 tahun :)), hanya menikmati liburan di rumah atau sejauh-jauhnya ke Prapat.
Begitu lah dua kakak beradik itu Mami dan Tante Inge tidak pernah lagi berlibur bersama.
Selain itu, kepribadian mereka berdua yang saling bertolak belakang membuat mereka kadang sulit untuk bisa duduk bersama atau berbicara tanpa diakhiri dengan perselisihan pendapat.Tante Inge lebih rapi, terorganiser dan terencana. Sementara Mami lebih spontan, slordig (sembrono).
Akhirnya aku lah yang selalu berada ditengah mereka. Hal-hal yang perlu disampaikan oleh Mami kepada adiknya akan disampaikan lewat ku begitu juga sebaliknya.
Dan itu membuat aku mengenal betul apa yang disukai dan tidak disukai Tante Inge. Sepertinya aku lebih mengenal Tante Inge daripada Mami, kakaknya.
Dengan perjalanan waktu, dengan pengalaman kehilangan belahan jiwa masing-masing yang lebih dulu menghadap Bapa di surga, saya melihat hubungan mereka sedikit demi sedikit mulai membaik. Tante Inge mulai lebih sering datang berkunjung ke rumah kami. Setiap Natal atau Tahun Baru Tante datang ke rumah.
Perkenalan Mami dengan John yang awalnya membuat saya khawatir akan memperburuk hubungan mereka ternyata tidak beralasan. Sebaliknya Tante Inge sepertinya bisa menikmati kehadiran John.
Begitulah, pertengahan Desember lalu secara tiba-tiba Tante Inge minta aku pesankan hotel di Prapat untuk 2 atau 3 malam. Menurutnya Edwin sepupu ku anak bungsunya sudah berkali-kali ingin ke Prapat. Kami diajaknya ikut asal aku bisa menyediakan mobil untuk transport kami. Hal yang tidak sulit bagi ku.
Setelah mencoba mencari kesana kemari akhirnya kami berhasil mendapat tempat di Prapat, di Hotel Inna Prapat. Satu-satunya hotel dari dulu yang masih diingat Tante Inge.
Kami akan menginap di sana mulai dari tanggal 29 Desember sampai 31 Desember.
Ternyata pagi-pagi tanggal 29 Desember ada perubahan sedikit, Edwin tidak jadi ikut karena tiba-tiba diare. Hal yang sedikit mengecewakan kami, tapi apa boleh buat.
Kami tetap berangkat tanpa Edwin.
Saat itu aku sangat kagum pada Tante Inge, aku tahu semua rencana ini untuk Edwin, dia sendiri dengan usianya aku tahu tidak begitu antusias dengan perjalanan ini.
Tapi ketika Edwin tidak bisa ikut, dia tetap berangkat bersama kami.
Begitu mulai masuk Lubuk Pakam, Tante Inge mengajak kami bermain kata, mencoba menemukan kata dalam bahasa Inggris yang diawali dengan "C".
Satu persatu kata berawalan C meluncur dari mulut kami. Bahkan Pak Ari supir Apotik Sutomo yang kami pinjam pun ikut nimbrung.
"Coconut" sahutnya tiba-tiba.
Tante Inge bertepuk tangan, kami tertawa.
Pak Ari memang senang bercanda apalagi tertawanya lepas terbahak-bahak.
Ternyata John dan Tante Inge senang dengan gaya lawakan Pak Ari.
Aku pun senang, artinya pilihan ku untuk memakai Pak Ari sebagai driver kami tidak salah. Karena aku ingin semua happy dalam liburan ini.
Dari "C" kami pindah ke "S" masih dalam bahasa Inggris.
Pak Ari tetap nimbrung. Riuh rendah suara gelak tawa kami setiap kali ada yang berhasil menemukan kata yang unik yang berawalan S.
Bosan dengan kata Inggris, kami pindah ke huruf "K" dan kali ini bahasa Indonesia.
"Tapi jangan yang aneh-aneh ya.." kata Tante Inge.
Hahaha....
Akhirnya meluncurlah kata dalam bahasa Indonesia yang berawalan dengan "K"
Ternyata banyak sekali kata-kata berawalan K yang bisa membuat kami terbahak-bahak.
Namanya orang tua kalau sudah tertawa membuat otot detrusol otot kandung kencing sulit terkontrol.
Akibatnya kami harus segera mencari perhentian dulu sebelum melanjutnya pencarian kata-kata berawalan "K"
"Ah..bahaya kali huruf K ini" kata Tante Inge.
"Iya..sampai harus ke (K)akus (K)encing-kencing.." sahut Pak Ari.
Kami semakin terbahak-bahak sambil memegang perut.
Perjalanan 4 jam menjadi tak terasa.Sepanjang perjalanan aku ajak mereka untuk membuat kalimat sepanjang-panjangnya dengan menggunakan kata-kata yang berawalan "T"
Awalnya "Tukang tahu tebing tinggi tiba-tiba teriak-teriak tolong tolong.."
Akhirnya makin panjang..."Tukang tahu tebing tinggi tiba-tiba teriak-teriak tolong tolong terpijak t*** tukang tempe"
Sumpah yang menemukan kata "tebing tinggi", "terpijak", "t***" itu Tante Inge, not me...
Hahahaha....
Keriuhan itu ternyata tidak hanya diperjalanan tetapi selama 2 malam kami di sana.
Keriuhan yang lebih lagi terjadi saat kami bermain kartu kwartet.
Permainan yang tujuannya untuk mengumpulkan 4 seri kartu bergambar yang dicari diantara pemain yang ada. Permainan ini menjadi lucu karena bahasa yang digunakan di kartu adalah bahasa Belanda, sementara ada 3 pemain (John, Tanti dan Pak Ari) yang tidak bisa berbahasa Belanda apalagi permainan ini juga baru untuk John dan Pak Ari, but they catched up very well.
"Untung kita main di luar, kalau tidak bis runtuh langit-langitnya" kata Tante Inge.
Celutukan dia memang selalu membuat kami tertawa.
Malam kedua kami lalui dengan berkaraoke hingga pukul 11 malam.
Ketika akhirnya kami harus kembali ke Medan, rasanya tak rela keriuhan dan kebersamaan ini berakhir.

Sampai diperjalanan pulang, saat mampir di rumah makan kampung temuan Pak Ari di Karang Anyar, saat menunggu ayam pesanan kami diproses untuk menjadi makan siang kami (dikejar, ditangkap, dipotong dan digoreng) kami masih bermain kwartet, masih terbahak-bahak.
Dan dalam perjalanan menuju Medan setelah makan siang, kami juga masih harus melewati pencarian kata masih tetap dengan huruf "K"..masih tetap sampai ter(kencing-kencing)...
Thank you God untuk kebersamaan ini dipenghujung Tahun 2010.
Dua kakak beradik tertawa bersama lagi, mengenang masa-masa muda mereka.
Semoga Tahun 2011 kami masih bisa bergembira bersama dengan perkenaaan Mu...

0 komentar:
Poskan Komentar