Senin, November 24, 2008

Ayah Ibu ku


Aku lahir sebagai anak pertama dan satu-satunya perempuan dari 3 bersaudara.

Ayahku bernama Vincentius Hardjito, seorang Jawa yang sangat santun tapi pendiam. Beliau lahir di Surabaya pada tahun 1924 dan pada tahun 1957 merantau ke Sumatera Utara untuk bekerja di AVROS. Papi, begitu kami biasa memanggilnya adalah tamatan dari ITB, yang pada saat itu masih bernama Technische Hogeschool Bandung.
Ibuku, adalah seorang keturunan Tionghoa Baba yang lahir di Medan pada tahun 1935. Mami, berbeda dengan Papi sangat banyak bicaranya dan senang mengobrol dan bertemu dengan orang banyak. Kalau dilihat mereka berdua sangat bertolak belakang kepribadiannya. Mereka menikah pada tahun 1965.

Aku rasa di masa itu tidak banyak perkawinan campur antara pribumi dengan keturunan Tionghoa. Makanya aku salut dengan Opa dan Oma baik dari pihak Papi maupun Mami yang bisa menerima pernikahan ini.
Papi merupakan anak ke dua dari 8 bersaudara; 6 pria dan 2 wanita.
Dari cerita papi aku mengetahui bahwa mereka dulu hidup sangat sederhana tapi selalu berbahagia.
Mami sendiri merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Opa Sei Kera (dulu mereka tinggal di Jl. Sungai Kera simpang Jl. Sulawesi) bukan seorang yang berpendidikan, tetapi beliau sangat senang membaca. Berbagai jenis buku sering dibelinya di Titi Gantung. Buku yang sudah dibacanya pasti penuh dengan coretan dan catatan kecil disetiap halamannya.

"Foto kami di rumah Kampung Baru (sekarang mess PPKS)"
Papi menikah pada usia yang sudah tidak muda lagi 41 tahun sementara mami berusia 30 tahun. Empat tahun Papi menunggu sampai Mami mau menikah dengannya. Menurut Mami, dulu dia tidak terlalu suka dengan Papi.
"Papi mu dulu ceking dan hitam" begitu komentarnya.
Yeah..I can see that.
Tapi Papi selalu tampil rapi walau tidak dendy.
Aku suka sekali dengan gayanya berpakaian.

Lihat foto di atas ini, khas Papi dengan dompet di saku kemeja.

Papi adalah seorang yang sangat sederhana, jujur dan disiplin.
Berangkat kerja selalu lebih awal yakni sebelum lonceng kantor dibunyikan.
Ya..lonceng..khas perkebunan meskipun sebenarnya bukan lonceng tetapi velg truk yang dipukul dengan batang besi..teng..teng..teng..suaranya terdengar ke seluruh penjuru kompleks tempat karyawan tinggal termasuk kami.

Kedisiplinan Papi sering membuat sebal karyawan-karyawan yang ingin santai.
Papi paling sebal kalau pagi-pagi karyawan sudah baca koran sehingga tukang koran dilarangnya masuk ke komplek perkantoran.
Ada memang tukang koran namanya Pak Amat, uuuhh..marah sekali Papi kalau melihat dia berkeliaran di sekitar kantor.
Kasihan Pak Amat, dia selalu mengayuh sepedanya kencang-kencang kalau melihat Papi datang.

Papi juga sangat jujur. Pernah sekali waktu kami masih sekolah: aku, adikku Alfons mengobrol ngalor ngidul di beranda belakang sementara Papi membaca koran. Kami membicarakan tentang mimpi-mimpi kami untuk bisa kelak keliling dunia. Lalu kami bercanda mengatakan bahwa paling gampang kalau korupsi agar bisa ke luar megeri. Mendengar hal ini Papi marah
"Heh..apa itu korupsi. Belajar yang baik, kerja yang baik dengan sendirinya kesempatan untuk ke luar negeri akan datang." begitu katanya.
Iya, memang itulah pengalamannya sendiri. Karena pekerjaannya Papi mendapat banyak kesempatan untuk keliling dunia.
Ucapannya itu selalu aku ingat bahkan aku teruskan juga ke anak-anak.
I am very proud of him.
Teman-teman kerjanya yang sekarang banyak menjadi pasien ku selalu mengatakan bahwa Papi lah Direktur Rispa yang paling jujur dan disiplin.
Semoga kami, anak-anak dan cucu-cucunya bisa menjaga nama baiknya.










































0 komentar: