Kamis, November 22, 2012

The Two Sisters

Tidak terasa, sudah semakin dekat saatnya bagi kami untuk berpisah dengan tante Inge, adik mami yang paling kecil. Tante Inge akan pindah jauh ke Australia untuk bergabung dengan dua anak laki-laki nya yang sudah menetap di Sydney. Keputusannya untuk pindah ke sana bisa dimengerti. Dengan bertambahnya usia dan anak-anak yang sudah tidak lagi tinggal bersamanya ; dua di Sydney dan satu di Jakarta rasanya bijak jika keputusan itu diambil.
Sudah hampir setahun, beliau mulai memilah-milah barang mana yang akan dibawa dan mana yang tidak bisa dibawa.
Dua minggu lalu barang-barang yang akan dibawa sudah dipacking.
Rumah besarnya menjadi terkesan semakin besar dan kosong.
Terasa juga kosongnya di hati ini.

Saya membayangkan mami yang akhirnya harus terpisah jauh dari adiknya di usia senjanya.
Meski mereka berdua tidak terlalu dekat, tapi pasti kehilangan itu ada.
Mereka hanya bertiga bersaudara, yang tertua paman kami sudah sejak tahun '50an sekolah di Belanda dan kemudian menetap di sana. Usia mereka semua sudah diatas 70 tahun tapi secara umum kesehatan mereka masih baik. Puji Tuhan.

Sejak 2 minggu pula saya lihat mami mulai menyulam. Mami tidak begitu hobbi menyulam tidak seperti saya. Tetapi sepertinya mami menyulam sesuatu untuk tante kami ini.
Suatu tulisan dalam bahasa Belanda tentang angin yang mendorong kapal yang membawa pergi adiknya.
Mami menyulam hingga larut malam dengan bantuan kaca pembesar pula, sembari sesekali mengeluh tentang sulitnya menyulam di kain stramin yang halus.
Hati saya miris melihatnya. Mencoba menebak-nebak apa yang ada di hati mami.
Saya takut mami merasa sendiri. 
Tapi pada akhirnya saya bersyukur bahwa di masa tuanya mami bisa tinggal bersama kami.

"Dont worry Mom, we will take care of you. You will never be alone, we will always be at your side. We love you so much"


Tidak ada komentar: