"Don't Be an Exercise Dropout", begitu judul artikel yang saya baca di Majalah Reader's Digest terbitan tahun 1991 yang saya temukan di tumpukan majalah tua di gudang.Isinya mengingatkan saya tentang perjuangan saya untuk mulai renang setelah menderita HNP. Awalnya memang sulit sekali. Bahkan kenangan rasa sakit yang saya alami pun ternyata tidak cukup kuat untuk memotivasi saya untuk mulai berenang. Untunglah semua itu sudah lewat, sekarang ini renang sudah bisa saya jadikan rutinitas.
Untuk teman-teman yang mungkin sedang berjuang menjadikan olah raga sebagai rutinitas, mungkin baik saya bagi apa yang saya baca di Reader's Digest ini.
1. Bersiap-siaplah untuk kehabisan tenaga. Jangan percaya bahwa olah raga dapat membuatmu merasa bergairah secara cepat karena Anda pasti kecewa. Tapi bertahan lah, sesudah beberapa waktu Anda dapat berolahraga tanpa merasa kehabisan tenaga.
2. Olah raga lah untuk mendapatkan reward terselubung. Menurut Sue Browder penulis artikel Don't Be an Exercise Dropout, jangan berolah raga untuk memiliki tubuh yang bagus, perut yang twelvepack karena hasilnya mungkin mengecewakan dan membuat kita patah semangat. Untuk bisa tetap mempertahankan kebiasaan olah raga kita justru memerlukan inner rewards, seperti tidur lebih nyenyak, lebih tenang, lebih berperilaku positif dll.
Ini saya alami sendiri, kalau dari awal saya renang supaya kurus, pasti saya sudah berhenti dari dulu karena kenyataannya sampai sekarang saya nggak kurus-kurus meski renang 3 kali seminggu. Tapi karena niatnya untuk relaks ya terima kasih saya tetap bisa mempertahankan rutinitas.
3. Lakukan dengan cara mu. Cari lah olah raga yang sesuai dengan kepribadianmu. Kalau lebih senang bersosialisasi mungkin olah raga tennis atau basket lebih bisa membuat betah, dari pada bersepeda. Kalau takut terluka, lebih baik jalan kaki daripada olah raga bela diri. Betul sekali kan...?
4. Jika merasa pegal-pegal jangan patah semangat. Bagi yang bertahun-tahun tidak pernah olah raga, gerakan 30 menit bisa membuat otot tubuh terasa pegal-pegal tidak karuan. Jika karena itu ingin beristirahat beberapa hari it's ok, tapi jangan berhenti berolah raga. Sesudah hilang pegal-pegalnya, mulai lah lagi. Ah iya, saya juga mengalami yang seperti ini. Apalagi saya menderita HNP, di awal-awal rasanya koq tidak ada perbaikan, koq malah pegal-pegal. Sudah pegal karena HNP, pegal lagi karena renang..hampir membuat saya berhenti. Tapi saya yakin kan bahwa itu hanya awalnya saja eh..ternyata benar...
5. Melamun lah saat berolah raga. Nah ini saya akui. Dulu waktu niatnya ingin kurus, saya olah raga dengan sepeda statis, supaya tidak bosa saya naik sepeda sambil nonton tv, tapi gagal. Sepeda statis saya tinggalkan. Kadang waktu berenang saya juga bisa bosan, tapi melamun ternyata membuat renang menjadi mengasyikkan. Kadang saya memperhatikan desah nafas yang saya buang, mendengar suara air terpercik yang timbul karena gerakan saya atau menghitung gerakan saya. Tak trasa saya sudah berputar 15 kali.
6. Cari teman untuk berkeringat bersama. Teman-teman bisa membuat kita bertahan dengan rutinitas. Ini juga saya alami, di tempat saya renang ada beberapa ibu-ibu yang selalu menjadi teman saya renang. Kami selalu saling bertanya "Koq kemarin tidak renang..?", " Hari apa lagi renang..?"atau "Besok datang ya, saya nanti bawa kue.."Haha..semua itu membuat kita segan untuk tidak datang, dari pada pusing mencari alasan kenapa tidak datang mending datang deh..Lagian malu juga kalau sering-sering bolos. Satu teman yang selalu membuat saya termotivasi adalah seorang ibu yang sudah berumur 78 tahun, berenang 3 kali seminggu, dan bisa melakukan 20 putaran. Masa saya yang jauh di bawahnya tidak bisa !?
Ah..itu lah dia kalau kita sudah bisa rutin seminggu dua minggu, sepertinya semua menjadi lebih ringan.
So keep going friends...


0 komentar:
Poskan Komentar