Kamis, Januari 15, 2009

Toba Sari Tea

Dalam perjalanan pulang dari liburan di Parapat Desember 2008 lalu, kami diundang mampir ke rumah keluarga Mas Eko di Toba Sari. Mas Eko sahabat lama keluarga Sugiyo, orang tua iparku Erny. Dari saat kami berangkat, Tante Sugiyo sudah mengingatkan saya untuk menyempatkan mampir ke tempat Mas Eko.
"Nanti bisa lihat karpet hijau, Mbak" begitu smsnya

Toba Sari adalah perkebunan dan pabrik teh milik PTPN IV. Toba Sari terletak di Kabupaten Simalungun, lebih kurang 1 jam dari Pematang Siantar.
Karena kami dari Parapat, maka untuk menuju ke Toba Sari kami harus mengambil jalan ke arah Simarjarunjung, melewati jalan yang dikenal dengan sebutan jalan Jepang.

Di kiri kanan jalan, banyak ditemui pohon pinus dan kalau kita membuka jendela mobil maka bisa tercium aroma pinus yang menyegarkan. Jalan ini menyusuri pinggir Danau Toba, sehingga menyajikan pemandangan Danau Toba dari sisi yang lain..indah sekali.

Waktu kami menginap di Hotel Toledo Iin, sepertinya bukit inilah yang terlihat jauh di seberang danau berhadapan dengan kamar kami.
Sayang saya tak sempat mengambil foto Danau Toba dari sisi ini.

Setelah lebih kurang 45 menit menyusuri jalan Jepang ini, kami mengambil jalan ke kanan.
Ada 4 kebun teh di sepanjang jalan tersebut, yakni Toba Sari, Bah Butong, Bah Birong Ulu dan Sidamanik. Erny iparku itu melewati masa SMP nya di Bah Butong dan Toba Sari ini, sehingga dia kenal betul dengan daerah ini. Bahkan rumah Mas Eko sekarang adalah rumah mereka dulu.

Kami tiba disambut dengan ramah oleh Mas Eko dan Mbak Nining serta cucu mereka yang menggemaskan. Ya..Mbak Nining ini sebaya ku tapi sudah punya seorang cucu bahkan sebentar lagi akan tambah 1 cucu lagi. Hehehe...aku tidak bisa membayangkan di usia ku ini punya cucu. Tapi mungkin seru juga ya..

Jangan sampai hal ini didengar oleh Tita, nanti lain pula keinginannya, hahaha..
Mas Eko dan Mbak Nining hanya tinggal berdua, anak-anak sudah kuliah di Jawa, jadi bayi di rumah tentu menjadi hiburan bagi mereka yang boleh dikata masih muda.

Waktu mengobrol dengan keluarga Mas Eko, beberapa kali Tanti mengingatkan saya untuk bertanya ke Mas Eko apa kami boleh melihat pabrik. Tak ingin mengecewakannya, saya pun langsung menyampaikan permintaan Tanti tersebut. Setelah di cek apakah kegiatan pencucian teh sudah selesai, kami pun berjalan mengunjungi pabrik. Kalau kebun ya silahkan lihat sendiri di belakang rumah. Ya, benar..di belakang rumah Mas Eko terhampar karpet hijau kebun teh. Sungguh pemandangan yang menyejukkan mata.
Tita sibuk berfoto-foto dengan latar belakang kebun teh, narcis betul dia.














Saya gembira melihat anak-anak juga antusias untuk melihat pabrik dan perkebunan teh ini. Tak terdengar sedikit pun protes mereka akan kegiatan liburan yang lain dari biasa ini.

Dari luar kelihatannya pabrik teh tersebut kecil, tetapi ternyata besar juga.
Pertama-tama kami melihat tempat di mana teh yang sudah dipetik dicuci. Saat kami di situ proses pencucian teh baru saja selesai.
Dari situ kami melihat bagaimana teh di grinding dengan mesin grinding yang besar.

Lalu kami diajak naik ke lantai 2, dimana tempat pencicipan teh berada.
Sepanjang selasar yang kami lalui, saya perhatikan banyak sekali "debu" yang menempel di lantai, di pegangan tangga dan diambang jendela kaca. Saya sempat terheran-heran debu apa ini. Ternyata kemudian saya ketahui kalau itu debu teh.
Katanya orang Jepang paling senang meminum teh dari debu teh yang memang sangat halus ini.

Kami juga diperkenalkan dengan seorang Bapak yang tugasnya menjadi penguji teh untuk menentukan grade dari teh-teh tersebut. Ternyata si tester ini tidak menelan teh yang sudah dikecapnya tetapi meludahkannya ke suatu wadah yag telah tersedia.
Grade dari teh ditentukan oleh warna dan rasa dari teh tersebut.
Boleh dikata, si tester ini merupakan asset perusahaan. Semestinya lidahnya di asuransi kan ya..hehe

Setelah puas melihat-lihat pabrik teh kami kembali ke rumah Mas Eko setelah sebelumnya di beri oleh-oleh teh bubuk cukup untuk persediaan 1/2 tahun.
Teh dari Toba Sari tidak dijual di Indonesia tetapi diekspor ke luarnegeri. Jadi beruntung sekali kami bisa memperolehnya tanpa harus membeli dengan Euro atau Dollar.

Di rumah Mas Eko, kami disambut dengan sesuatu yang tak kalah seru dan menariknya dengan pabrik teh, yakni makan siang dengan ayam goreng, ikan mujair masak tauco, tahu goreng, sup ayam dan sambal ikan teri dan tentu saja teh hangat dari kebun belakang. Kelihatan sekali kalau Mas Eko dan Mbak Nining sudah mempersiapkan penyambutan kedatangan kami dari pagi.

Terima kasih Mas, Mbak, lain kali kami pasti bermalam di Toba Sari...

0 komentar: